Image

Operasi Militer Myanmar di Rakhine Telah Dihentikan

Militer Myanmar. (Foto: Reuters)

Militer Myanmar. (Foto: Reuters)

YANGON – Militer Myanmar mengakhiri operasi pembersihan di Provinsi Rakhine yang telah berlangsung selama empat bulan sejak diluncurkan akhir tahun lalu. Selama berlangsungnya operasi tersebut, militer Myanmar dituduh telah melakukan berbagai kejahatan kemanusiaan mulai dari pembunuhan, penyiksaan dan pemerkosaan, bahkan mungkin pembersihan etnis terhadap warga Muslim minoritas Rohingya.

Operasi itu dimulai setelah sembilan polisi tewas dalam serangan terhadap pos keamanan di dekat perbatasan Bangladesh yang dilancarkan pasukan pemberontak. Hampir 69 ribu warga Rohingya melarikan diri dari Myanmar, khususnya Rakhine ke Bangladeh sejak dimulainya operasi pada 9 Oktober 2016.

“Situasi di Rakhine utara sekarang telah stabil. Operasi pembersihan yang dilakukan militer telah dihentikan, jam malam telah dilonggarkan dan di sana hanya ada kehadiran polisi untuk menjaga perdamaian,” demikian disampaikan Penasihat Keamanan Nasional Myanmar, Thaun Tun sebagaimana dilansir Straits Times, Sabtu (18/2/2017).

Laporan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi dalam pelaksanaan operasi militer tersebut telah menarik perhatian dunia ke Rakhine. Kelompok HAM internasional menuduh militer Myanmar telah membakar setidaknya 1.000 rumah dan membunuh sedikitnya ratusan warga sipil memaksa 70 ribu penduduk desa mengungsi ke Bangladesh dan 20 ribu lainnya melarikan diri ke wilayah di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres dalam pernyataannya mengatakan terkejut melihat laporan terakhir mengenai kekerasan seksual yang dilakukan militer Myanmar terhadap perempuan dari etnis minoritas Rohingya.

(dka)
Live Streaming
Logo
breaking news x