HISTORIPEDIA: Hujan Tusukan dari 60 Senator Romawi Akhiri Kediktatoran Julius Caesar

Ilustrasi. Julius Caesar. (Foto: The Famous People)

Ilustrasi. Julius Caesar. (Foto: The Famous People)

GAIUS Julius Caesar adalah jenderal sekaligus politikus Romawi yang paling tenar. Berkuasa sejak Oktober 49 SM, kepemimpinannya dipandang otoriter. Meski memenangi pemilihan sebagai penguasa Romawi dengan permainan kotor, di bawah kepemimpinannya, Romawi mencapai banyak kemajuan yang hasilnya masih bisa dinikmati hingga saat ini.

Kediktatoran Caesar mau tak mau mengundang banyak musuh. Apalagi setelah pada 45 SM, dia kembali ke Roma untuk mengikuti pemilihan konsul ketiganya. Dalam kemenangannya, Julius Caesar mendeklarasikan diri sebagai pemimpin abadi.

Ilustrasi. Rekayasa pembunuhan Julius Caesar pada 15 Maret 44 SM. (Foto: iStock)

Pelantikannya sebagai diktator seumur hidup menuai tentangan dari para senator. Melansir History, Rabu (15/3/2017), dirancanglah rencana pembunuhannya. Bertempat di ruang pertemuan paripurna, pria kelahiran Juli 100 SM itu menemui ajalnya.

Sebelum memasuki ruang rapat, Caesar sejatinya telah diperingatkan. Sebuah surat diselipkan ke tangannya. Nyawanya terancam. Akan tetapi, dia tidak membaca surat kecil tersebut. Saat ia melangkah ke dalam, puluhan senator telah menunggunya. Sepucuk pisau belati teracung di genggaman mereka.

Servilius Casca menjadi yang pertama maju, tanpa ragu, dia menancapkan belatinya ke leher Caesar. Baru kemudian yang lain mengikuti, menusuk berulang kali, tanpa ampun, ke bagian kepala diktator Romawi tersebut.

Tak ada seorang pun yang menolongnya. Ia tenggelam dalam hujan tusukan itu. Teater-teater selalu mengenang peristiwa Ides of March (15 Maret 44 SM) tersebut dengan satu adegan yang tak boleh terlewat, ketika di antara puluhan penikamnya, turut pula anak asuhnya, Marcus Brutus.

(Sil)
1 / 2
Live Streaming
Logo
breaking news x