Dosen Unair Ciptakan Alat Deteksi Jantung Fiber Optik

Foto: Dok Unair

Foto: Dok Unair

JAKARTA - Kesukaanya pada bidang Fisika, membuat dosen Universitas Airlangga (Unair) Prof. Dr. M. Yasin, M.Si menjadi salah satu profesor yang karya penelitiannya diakui di skala nasional dan internasional.

Sepanjang 2016, ia sudah membuat 16 penelitian yang dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi terindeks Scopus. Penelitian terbarunya baru saja terbit di jurnal Optik Optics pertengahan Januari 2017 lalu.

Dalam jurnal tersebut, Yasin dan dua peneliti Unair lainnya, Prof. Dr. Retna Apsari dan Yhosep Gita Yhun Yuwana, S.Si., M.T., menulis penelitian berjudul “Fiber Optic Sensor for Heart Rate Detection”. Artikel penelitiannya hanya butuh waktu 26 hari untuk melewati proses pengiriman artikel, revisi hingga terbit.

Yasin mengembangkan metode deteksi aktivitas listrik yang dihasilkan jantung dengan menggunakan sinar laser dan sensor fiber optik. Fiber optik ini berfungsi untuk merambatkan cahaya laser. Fiber optik dipasangi sebuah instrumen bernama bundle probe yang memang digunakan untuk memeriksa luka atau bagian tubuh. Instrumen tersebut diarahkan ke objek yang dilapisi kaca.

Saat praktikum, Yasin dan tim memanfaatkan pengeras suara untuk mengganti detak jantung asli. Proses kerjanya adalah sinar laser ditransmisikan melalui serat ke arah pengeras suara yang diatur dengan penguat sinyal audio. Sinyal dari pengeras suara dipantulkan melalui kaca dan diterima oleh fiber. Sinyal suara tersebut dikonversi menjadi sinyal listrik. Hasil deteksi aktivitas listrik dilihat melalui osiloskop.

“Objek benda ditembak dan ditampilkan di osiloskop. Ini bisa juga dimanfaatkan untuk endoskopi organ,” tutur Yasin seperti disitat dari laman Unair, Sabtu (18/3/2017).

“Fiber itu seperti kabel yang merambatkan cahaya. Fiber ini bergelombang bila kena gelombang suara. Nah, perubahan itu yang dideteksi dan kita ukur,” tutur penerima penghargaan Emerald Publisher pada kategori Highly Recommended Paper Award tahun 2013.

Biasanya, dalam memeriksa detak jantung pasien, tenaga medis menggunakan alat bernama elektrocardiogram (ECG). Dengan metode yang kini tengah dikembangkan Yasin, tubuh pasien tak perlu dipasangi peralatan karena cukup ‘ditembak’ dengan sinar laser. Keunggulan lainnya, hasil aktivitas listrik yang diukur lebih presisi. Tingkat ketelitiannya sama dengan panjang gelombang cahaya dengan satuan nanometer.

Saat ini, Yasin dan tim terus berupaya memantapkan penelitian tersebut. Di penelitian lanjutan, ia akan mengoptimasi sistem sensor sinyal dengan metode microbending atau lengkungan.

“Jadi, fiber itu kan lurus. Kalau ditekan kan melengkung. Lengkungan itu akan mengakibatkan perubahan intensitas cahaya. Perubahan itulah nanti yang akan diteliti lebih detail. Apakah detak jantung akan seirama dengan pergeseran fiber itu. Baru setelah itu bisa diterapkan pada manusia,” imbuh dosen berprestasi tahun 2013.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x