facebook pixel

Mobil Buatan Mahasiswa UNS dan ITS Akan Berlaga di Inggris

Sapuangin tim ITS 2 (Foto: Shell)

Sapuangin tim ITS 2 (Foto: Shell)

JAKARTA - Sebanyak 26 mobil hemat energi rancangan mahasiswa Indonesia berlaga di kompetisi Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2017. Mobil-mobil yang ikut serta terbagi dalam dua kategori yaitu urban concept dan prototipe. Kompetisi yang sudah berakhir kemarin, Minggu 19 Maret 2017 ini berhasil membawa harum nama Indonesia di kancah internasional.

Pasalnya, mobil hemat energi buatan Tim Bengawan 2 dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) dan Tim ITS 2 dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) masing-masing berhasil menyabet gelar juara 2 dan 3 dalam kompetisi tersebut. Juara pertama dimenangkan oleh tim mahasiswa dari Filipina.

Dengan hasil kemenangan itu, dua tim yang ikut kategori urban concept   tersebut akan bertanding kembali di DCW level internasional pada Mei 2017 di London, Inggris sebagai perwakilan dari Asia.

Tim Bengawan 2 dan ITS 2 menjadi dua dari tiga tim tercepat yang sukses menyelesaikan empat putaran dengan menggunakan energi dan bahan bakar paling efisien.

Prestasi yang diraih oleh tim UNS maupun ITS menambah daftar kemenangan tim mahasiswa Indonesia yang berlaga di event tahunan tersebut.

"Bagi kami ini seperti mimpi. Enggak pernah terpikirkan untuk menjadi juara kedua, apalagi sampai ke London. Alhamdulillah, kerja keras kami semua terbayar lunas. Yang pasti ini belum selesai, kami harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk di London," ujar Ivan Fadil, Manajer Tim Bengawan 2.

Hal serupa diungkapkan Tim ITS 2. "Kemenangan ini adalah kebanggaan yang membayar seluruh kerja keras satu Tim ITS 2. Kami sudah pernah tahun lalu di DCW Global di London dan adalah berkah juga untuk kami di tahun ini kembali ke sana. Sekarang saatnya kami mempersiapkan diri sebaik-baiknya," ujar Annas Fauzy, Manajer Tim ITS 2.

Di sisi lain, ada juga tim mahasiswa yang tidak mendapatkan hasil positif, salah satunya dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat. Di mana runner-up tahun lalu itu harus puas berada di urutan 10. Padahal, mobil itu pernah dibawa ke markas Ferrari di Maranello, Italia untuk uji jalan. Dari situ, timnya mendapat banyak masukan, sehingga ketika sampai di Indonesia mobil langsung dirombak dan dibangun ulang.

Sementara itu, pada kategori prototipe, Indonesia hanya bisa menempati urutan keempat, yakni Tim Nakoela dari Universitas Indonesia (UI) dengan catatan 919 km/liter dalam lima kali percobaan. (san)

(ton)