Duh! SMA di Mojokerto Terpaksa Gelar USBN Pakai Kertas

Foto: Zen Arivin/Okezone

Foto: Zen Arivin/Okezone

MOJOKERTO - Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kota dan Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, hari ini menggelar Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) secara serentak, Senin (20/3/2017).

Sayangnya, pelaksanaan USBN kali ini mengalami kemunduran. Di tengah upaya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendi menggenjot sekolah untuk melakukan ujian berbasis komputer, justru SMA di Kota dan Kabupaten Mojokerto melaksanan ujian menggunakan metode konvensional.

Sejumlah sekolah ini, melaksanakan USBN dengan cara lama yakni menggunakan kertas. Hal Itu dikarenakan, intruksi dari Cabang Dinas Pendidikan Provinsi, wilayah Kota-Kabupaten Mojokerto yang memutuskan pelaksanaan USBN tahun ajaran 2016-2017 ini tidak diperbolehkan menggunakan metode komputer.

"Benar, memang sesuai dengan intruksi yang kami terima, untuk USBN kali ini semua sekolah di Kota dan Kabupaten Mojokerto diminta menggunakan kertas, tidak online seperti sebelumnya," kata Wakil Kepala Kurikulum SMAN 1 Sooko, Budi Widiantoro, Senin (20/3/2017).

Budi pun tak menampik, pelaksanaan USBN berbasis kertas ini merupakan sebuah kemunduran dalam dunia pendidikan di wilayah Kota dan Kabupaten Mojokerto. Sebab tahun sebelumnya, sekolah-sekolah di Mojokerto sudah menggunakan sistem online.

"Sejak tahun lalu baik USBN maupun ujian sekolah setiap setiap semester kita sudah menggunakan metode online atau berbasis komputer. Sebab, untuk kebutuhan perlengkapan seperti PC dan Laptop tidak ada kendala," imbuhnya.

Selain mengalami kemunduran, ada beberapa hal yang menjadi kekhawatiran pihak sekolah dengan pelaksanaan USBN berbasis kertas ini. Antara lain, terkait dengan kerahasiaan soal. Sebab, pendistribusian soal yang berbentuk file itu tanpa ada pengawalan dari pihak kepolisian.

"Berbeda dengan dulu, kalau dulu berbasis kertas tapi pengawalannya juga sangat ketat. Selain itu, yang dikirimkan ke sekolah masih berbentuk file sehingga sekolah harus mencetak sendiri. Selanjutnya di tempat penggandaan itu bagaimana kerahasiaannya. Itu yang rawan bocor," terangnya.

Selain itu, ujian berbasis kertas ini juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Setidaknya, sekolah harus mengeluarkan biaya sebanyak Rp8 juta untuk menyelenggarakan USBN berbasis kertas untuk 441 siswa. Berbeda dengan sistem online yang hanya sedikit mengeluarkan biaya.

"Kalau sistem komputer untuk biaya dalam pelaksanaannya bisa zero. Karena soal tinggal kita unggah di website kemudian siswa men-download. Kalau tidak punya paket internet, sekolah juga menyediakan fasilitas wifi dan itu gratis," paparnya.(afr)

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x