Gereja Terlibat Genosida Rwanda, Paus Fransiskus Minta Maaf

Paus Fransiskus menerima kunjungan Presiden Rwanda Louise Mushikiwabo di Vatikan (Foto: Tony Gentile/Reuters)

Paus Fransiskus menerima kunjungan Presiden Rwanda Louise Mushikiwabo di Vatikan (Foto: Tony Gentile/Reuters)

VATIKAN - Pemimpin Tertinggi umat Katolik sedunia, Paus Fransiskus I, meminta maaf atas peran dan kegagalan gereja dalam peristiwa pembantaian etnis di Rwanda pada 1994. Permintaan maaf itu disampaikan Sri Paus saat bertemu Presiden Rwanda Paul Kagame di Vatikan pada Senin 20 Maret 2017 siang waktu setempat.

Sri Paus menyampaikan solidaritas kepada para korban dan orang-orang yang sampai hari ini masih menderita akibat peristiwa tragis tersebut. Pria asal Argentina itu mengakui bahwa ada pendeta dan biarawati Gereja Katolik yang terpengaruh oleh kebencian mereka dalam konflik penuh kekerasan itu.

Menteri Luar Negeri Rwanda, Louise Mushikiwabo yang turut menemani Presiden Kagame dalam lawatan itu mengatakan, pertemuan dengan pemimpin Vatikan adalah sebuah langkah positif.

"Pertemuan ini membuat kami bisa membangun landasan yang lebih kuat untuk memulihkan hubungan dengan gereja katolik," kata Mushikiwabo sebagaimana dilansir CNN, Selasa (21/3/2017).

Pada November 2016, Gereja Katolik Rwanda telah terlebih dahulu meminta maaf dan mengakui keterlibatan anggotanya dalam pembantaian yang menewaskan ratusan ribu jiwa itu.

Ratusan ribu warga suku minoritas Tutsi tewas dibantai suku Hutu dalam Genosida Rwanda 1994. Dalam pembantaian yang berlangsung selama sekira tiga bulan itu, lebih dari 800 ribu warga Tutsi kehilangan nyawannya.

Pada 2001, Pengadilan Internasional PBB mendakwa empat orang pastor Katolik atas peran mereka dalam genosida tersebut. Salah satu di antaranya adalah Pastor Athanse Seromba yang dijatuhi hukuman seumur hidup atas peran aktifnya dalam pembunuhan 2.000 warga Tutsi yang mencari perlindungan di gerejanya.

(war)
Live Streaming
Logo
breaking news x