Wah! Kehidupan Nelayan Membaik Usai Izin Proyek Reklamasi Dibatalkan

Reklamasi (Foto: Ant)

Reklamasi (Foto: Ant)

JAKARTA - Kuasa hukum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Tigor Hutapea mengatakan, kehidupan nelayan di Teluk Jakarta membaik pasca-Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta membatalkan izin pelaksanaan reklamasi Pulau G, akhir 2016 lalu. Pekan lalu, PTUN kembali mengeluarkan putusan membatalkan izin pelaksanaan reklamasi Pulau F, I dan K.

"Mereka mencoba budi daya kerang, karena dulu (karena pelaksanaan reklamasi) mereka tidak bisa budi daya kerang. Pokoknya kehidupan mereka menjadi lebih baik," kata Tigor dalam diskusi Redbons di Redaksi Okezone, Jakarta, Selasa (21/3/2017).

Menurut Tigor, selama pelaksanaan reklamasi Pulau G, mata pencaharian nelayan terganggu. Selain itu, dampak dari proyek tersebut juga membuat jumlah ikan yang bisa ditangkap nelayan berkurang jauh.

"Dampak yang paling terasa sehari-hari, mereka melautnya harus memutar dan itu membutuhkan biaya yang lebih besar. Kedua, ketika ada gelombang barat atau timur, justru keberadaan pulau itu mengakibatkan pencemaran dan ikan-ikan yang ada di Teluk Jakarta menyingkir ke perairan yang lebih dalam," terangnya.

Tigor menjelaskan, ada sekira 17 ribu nelayan yang tinggal sepanjang pesisir Jakarta yang nasibnya dipertaruhkan dengan adanya proyek reklamasi ini. Ia berharap, putusan PTUN Jakarta yang membatalkan izin reklamasi tiga pulau itu dihormati semua pihak dengan menghentikan proyek yang ada.

Bahkan, ia juga mengimbau pemerintah pusat menghentikan seluruh proyek reklamasi di Indonesia. Sejumlah proyek reklamasi diketahui mendapat protes keras dari nelayan dan masyarakat pesisir.

"Di Bali terjadi penolakan, di Makassar terjadi penolakan, di Palu masyarakat pesisirnya protes, di Jakarta ada gugatan yang dimenangkan nelayan. Ini membutikan bahwa kebijakan reklamasi yang direncanakan pemda maupun pemerintah pusat harus dievaluasi," ujar Tigor.

(Ari)
Live Streaming
Logo
breaking news x