Image

Saksi Ahli Bahasa Kuatkan Dugaan Niat Ahok Menistakan Agama

Foto: ant

Foto: ant

JAKARTA - Tim advokat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI), Nasrulloh Nasution menyatakan keterangan ahli yang dihadirkan kubu terdakwa dugaan kasus penistaan agama, semakin menguatkan terdakwa Basuki T Purnama (Ahok) telah menistakan agama.

Bahkan, ia menilai keterangan ahli bahasa tersebut, sejatinya menguatkan unsur niatan Ahok dalam menistakan agama Islam.

(Baca juga: GNPF Sebut Saksi Ahli Bahasa UI Kuatkan Dugaan Niat Ahok Menistakan Agama).

Menurutnya, Prof. Dr. Rahayu Surtiati sebagai saksi ahli, menyimpulkan perkataan Ahok di Kepulauan Seribu yang menyinggung Surat Al Maidah 51 merupakan hasil pengalaman gagal Ahok di Pilkada Bangka Belitung tahun 2007 silam.

"Lantas, Ahok menuduh, kegagalannya dalam Pilkada tersebut akibat adanya selebaran yang beredar dan berisi seruan agar tidak memilih pemimpin nonmuslim sebagaimana dinyatakan dalam Surat Al Maidah ayat 51," ujarnya di Kementan, Jakarta Selatan, Selasa (21/3/2017).

Ia menambahkan, keterangan saksi ahli tersebut juga menerangkan bahwa tidak ada ruang hampa dalam pikiran terdakwa, sehingga setiap perkataan tidak dapat berdiri sendiri dan selalu berhubungan dengan perkataan sebelumnya.

(Baca juga: Majelis Hakim Tegaskan Sebelum Bulan Puasa Ahok Sudah Divonis).

Karenanya, lanjut Nasrulloh, pengalaman kegagalan Ahok di Pilkada Bangka Belitung 2007 silam akibat Surat Al Maidah 51, menjadi pengalaman buruk yang tak ingin diulang dan disampaikan dalam berbagai kesempatan.

"Pengalaman buruk Ahok dengan Surat Al Maidah 51 itu bukti penguat adanya unsur niat menista agama Islam," katanya.

Sehingga, ini menguatkan fakta dan sesuai dengan keterangan saksi ahli yang dihadirkan JPU yang mengatakan Surat Al Maidah 51 sebagai alat kebohongan.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim Dwiarso Budi Santiarto mengatakan persidangan kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok bisa segera selesai. Pembacaan vonis untuk Ahok diharapkan dilakukan sebelum bulan puasa Ramadhan atau Mei 2017.

"Kita sudah susun kalender, kalau bisa sebelum puasa kita sudah putus (vonis Ahok). Bulan puasa kan sekitar akhir Mei," kata Dwiarso di Auditorium, Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan.

(fmi)
Live Streaming
Logo
breaking news x