facebook pixel

Jika Pajak Mobil Sedan Diturunkan...

(Foto: Okezone)

(Foto: Okezone)

TANGERANG - Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sejak beberapa tahun lalu sudah meminta kepada Pemerintah untuk menurunkan pajak sedan dari 30 menjadi 10 persen. Dengan begitu pasar mobil sedan diharapkan bisa bertumbuh kembali karena harganya bisa turun.

Namun, menurut Jonfis Fandy, marketing and aftersales service director PT Honda Prospect Motor (HPM), penurunan pajak tidak serta merta membuat penjualan mobil sedan naik secara cepat.

"Kalau (pajak) diturunkan, volume (penjualan) bisa naik atau enggak. Karena pemerintah selalu berpikiran realistis kepada pelaku bisnis. Oke, pajak diturunkan, tapi pendapatan berkurang dong. Volume bisa naik enggak, kalau bisa, berapa banyak. Mereka (pemerintah) harus membuat hitung-hitungan. Dari sejarah yang kita tahu, sedan ini kan bukan tipe mobil yang memuat orang banyak," kata Jonfis, di sela test drive new City, di Alam Sutera, Tangerang, Kamis (20/4/2017).

Sekalipun permintaan Gaikindo itu dipenuhi, Jonfis yakin tidak serta merta langsung menaikkan penjualan. Butuh waktu panjang untuk membuat sedan secara perlahan diminati kembali oleh konsumen di Indonesia. Apalagi, kini mobil 7-seater semakin banyak.

"Tidak bisa recovery cepat kalau (harga) turun ke angka sekira Rp200 jutaan. Dia (sedan) kan bukan 7-seater. Karena kultur di sini maunya muat banyak. Itu (sedan) akan berhadapan dengan mobil 7-seater,” tambahnya.

Selain itu, penurunan pajak sedan diyakini akan berpengaruh ke beberapa segmen lain, namun jumlahnya tidak akan banyak.

"Pertanyaanya, kenapa sedan dikasih mahal, karena ada proteksi untuk 7-seater. Jadi sedan dikenai pajak barang mewah. Tapi apakah sedan itu masih barang mewah, apa CR-V kurang mewah, Alphard kurang mewah. Terjadi perbedaan di sini. Itu kan yang dipertanyakan," pungkas dia.

(ton)