facebook pixel

Terkendala Baterai, Pabrikan di Indonesia Kesulitan Produksi Mobil Hybrid

Ilustrasi produksi mobil (Foto: Koran sindo)

Ilustrasi produksi mobil (Foto: Koran sindo)

TANGERANG - Mobil berteknologi hybrid akan masuk skema low carbon emission programme (LCEP). Dengan demikian harga mobil ramah lingkungan itu bisa lebih terjangkau, sebab mendapat insentif dari pemerintah.

Permasalahannya, salah satu syarat LCEP adalah mobil itu harus diproduksi di Indonesia. Local content-nya pun ditentukan.

"Sampai sekarang belum ada pabrikan yang siap untuk produksi hybrid, apalagi konten lokalnya sampai 85 persen," ujar Jonfis Fandy, marketing and aftersales service director PT Honda Prospect Motor (HPM), kemarin.

Honda sendiri, lanjut dia, harus berkoordinasi dengan prinsipal di Jepang bila diharuskan untuk membangun mobil hybrid secara lokal.

"Saya harus pelajari. Kalau kita harus bicara ke Jepang karena di sana punya bensin dan hybrid," tambahnya.

Diakuinya untuk memproduksi mobil hybrid tidak perlu pembaruan teknologi besar-besaran, tapi yang perlu menjadi perhatian adalah soal pembuatan baterainya.

"Secara umum tidak perlu teknologi advance tapi paling tidak untuk baterai ada jalur khusus. Harus ada fasilitas untuk produksi baterai," tutur Jonfis. (san)

(ton)
TAG : BRI
​