Presiden Prancis Sebut Penembakan Jelang Pilpres sebagai Serangan Teror

Kepolisian Prancis menutup area di sekitar lokasi penembakan (Foto: Christian Hartmann/Reuters)

Kepolisian Prancis menutup area di sekitar lokasi penembakan (Foto: Christian Hartmann/Reuters)

PARIS – Presiden Prancis Francois Hollande meyakini penembakan yang terjadi di jalan utama menuju Istana Kepresidenan Champ-Elysee sebagai serangan teroris. Padahal, otoritas berwenang lain di Prancis menyatakan masih terlalu dini untuk disebut serangan teror.

Seorang polisi tewas dan dua orang petugas lainnya luka-luka akibat penembakan tersebut. Penembakan diduga dilakukan oleh dua orang. Sebab, satu orang pelaku tewas ditembak oleh polisi. Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Pierre-Henry Brandet menyatakan penembakan sengaja menargetkan kepolisian.

Insiden tersebut terjadi hanya beberapa hari menjelang pemilihan presiden (pilpres) Prancis pada Minggu 23 April 2017. Presiden Francois Hollande mengimbau agar warganya siaga penuh menjelang pelaksanaan.

“Kita harus ekstra waspada, terutama berkaitan dengan pemilihan presiden,” tutur Francois Hollande, mengutip dari Reuters, Jumat (21/4/2017). Area sekitar Istana Kepresidenan Champ-Elysee ditutup untuk sementara waktu oleh kepolisian.

Warga diimbau untuk menjauh dari tempat kejadian perkara (TKP). Polisi mengklaim sudah mengantongi identitas pelaku yang tewas dan sedang menggeledah rumahnya yang berada di sebelah timur Paris. Petugas yang berada di TKP menyatakan sedang mencari kemungkinan adanya pelaku kedua. Brandet sendiri mengatakan kemungkinan tersebut tidak bisa disingkirkan begitu saja.

Prancis sendiri dalam dua tahun terakhir mengalami beberapa serangan teror, seperti teror Paris pada 13 November 2015, dan teror truk di Nice pada 14 Juli 2016. Ratusan nyawa melayang akibat serangkaian serangan teror tersebut.

(war)
Live Streaming
Logo
breaking news x