Made Ayu, "Kartini" Pejuang dari Desa Ulakan

Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

Suara tepuk tangan membahana ketika ketika tim juri mengumumkan bahwa Agus Krisnha Putra, seorang siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) di Karangasem, Bali, menjuarai lomba pidato se-kabupaten.

Sementara itu, di sudut lain, seorang perempuan diam-diam terharu dan menahan air mata menyaksikan pemandangan itu. Pemandangan ketika anak sulungnya mendapatkan prestasi bergengsi sebagai juara lomba pidato se-Kabupaten Karangasem, yang benar-benar seperti "membasuh" lelahnya sehabis bekerja sebagai buruh bangunan.

"Anak sulung saya Agus Krisnha Putra sungguh-sungguh pelita dalam hidup saya. Membawa kebanggaan, harapan dan saya siap berjuang apa saja, agar anak saya ini nasibnya lebih baik dari saya. Kalau putra kedua saya, Agus Candra Prayoga yang kini duduk di SMP, selalu masuk ranking 10 besar di sekolahnya," ujar Made Taman Ayusinta (38), seorang buruh bangunan yang tinggal di Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali.

Menurut Made Ayu -panggilan Made Taman Ayusinta-, selain menorehkan prestasi sebagai juara pidato tingkat kabupaten, Agus Krisnha pun pernah menjadi juara lomba gong kebyar se-kabupaten dan juara majalah dinding se-provinsi Bali. Selain itu, Agus Krisnha juga selalu mendapat ranking di sekolah.

Prestasi demi prestasi yang ditorehkan putra-putranya, kata Made Ayu, menjadi pelipur lara ketika dirinya menjalani hidup yang keras sebagai buruh bangunan.

Segenap lelah dan cucuran keringat ketika bekerja membangun rumah orang atau ada proyek mengecat, seperti langsung terhapuskan ketika melihat wajah ceria kedua anaknya saat akan berangkat sekolah.

Dia mengatakan kedua anaknya adalah tumpuan hidupnya, sekaligus penyemangat sehingga dirinya tak pernah letih berjuang sampai kapanpun.

Dan meski sering ditinggal berhari-hari kadang seminggu lebih, Agus Krisnha dan Agus Candra telah terbiasa mandiri mengurus rumah dan memasak ala kadarnya.

"Kadang saya ada proyek membangun rumah di Denpasar, Buleleng atau daerah lain sehingga tidak bisa pulang setiap hari. Kedua anak sudah bisa diandalkan mengurus diri sendiri dan tetap mau belajar, mesti tanpa saya harus mengingatkan. Sejak kecil anak-anak saya giat belajar, kadang sampai suruh berhenti membaca buku karena terus-terusan duduk di meja. Biar sesekali main sama temannya, karena namanya anak-anak tetap perlu berteman dengan seusianya," ujar anak kedua dari lima bersaudara ini.

Bahkan, kata dia, dengan mata berkaca-kaca, kedua anaknya sangat memperhatikan dirinya. Ketika suatu hari hari Made Ayu mengalami musibah karena kakinya kejatuhan material tatkala sedang bekerja di Denpasar, Agus Krisnha langsung menelpon dan menanyakan keadaannya sambil menangis.

Pahit Getir

Perjalanan hidup Made Ayu, terbilang keras sejak masih kecil. Perempuan ini merupakan anak kedua dari lima bersaudara, dari pasangan I Ketut Merta dan Ni Wayan Rauh.

Terlahir di Banjar Bengkel, Desa Ulakan, Kecamatan Manggis, dengan kondisi perekonomian keluarga yang kurang mampu, membuatnya terbiasa berjualan di sekolah sejak masih duduk di sekolah dasar.

Sepulang sekolah, Made Ayu mencari rumput untuk pakan sapi yang dipelihara ayahnya. Setelah itu, dia mencari kayu bakar. Sebagian kayu itu untuk dijual, sebagian lagi digunakan ibunya untuk memasak sehari-hari.

Tanpa berkecil hari, Made Ayu terus bersemangat tanpa pernah pernah mengeluh menjalani pahit getirnya masa-masa usia belia. Saat itu Made Ayu berharap setelah tamat sekolah dasar, maka dirinya dapat melanjutkan ke SMP kalau rajin membantu kedua orang tuanya.

Malangnya, sehari sebelum kelulusan SD, kedua orang tua Made Ayu memberi tahu kalau tak akan mampu membiayai untuk sekolah di SMP. Ketidakmampuan ini sebenarnya cukup berasalan, dikarenakan mereka harus menanggung biaya hidup kelima orang anaknya, sedangkan sang ayah tidak memiliki pekerjaan tetap.

Hati Made Ayu menjadi sedih dan amat terpukul mendengar pemberitahuan orang tuanya. Kesedihannya kian bertambah, ketika ia mendengar orang tuanya pun tidak memiliki uang untuk kegiatan perpisahan sekolah, dan pembayaran serah terima surat tanda tamat belajar (STTB) dari sekolah dasarnya.

Bermodalkan sikap nekad, Made Ayu kemudian membongkar celengannya dan mendapatkan uang Rp2.500. Setelah berpamitan kepada orang tuanya, Made Ayu pun mengantongi uang itu untuk modal merantau ke Denpasar pada tahun 1991.

"Saat itu usia saya 11 tahun. Berangkat ke Denpasar sendiri, tidak ada tempat tujuan. Saya berjalan hilir mudik tidak karuan arah sampai kelelahan di trotoar. Kemudian ada orang Tionghoa mengajak kerja di warungnya, saya ditawari bekerja sebagai pembantu yang bertugas mencuci piring, mengupas bawang dan bersih-bersih," katanya.

Pekerjaan ini dijalani selama setahun, sebelum Made Ayu berpindah ke tempat lain sebagai pembantu rumah tangga. Dikarenakan majikannya memperlakukan kurang baik, dia memutuskan berpindah lagi ke rumah tangga lain. Kali ini dia cukup beruntung karena sikap majikannya lebih baik. Bahkan menawari untuk membiayai sekolah ke SMP.

Namun dikarenakan perasaan malu, Made Ayu justru memilih berhenti karena tidak ingin menjadi tanggungan hidup majikannya dan akhirnya bekerja sebagai kuli angkut barang di Pasar Badung. Jam kerjanya dimulai malam hari dan selesai pada pagi hari.

Saat itu, Made Ayu yang kelelahan sehabis bekerja sering istirahat di emper toko atau di bawah jembatan agar dapat sejenak melepas penat. Selanjutnya, dia memilih menyewa kamar kos agar dapat istirahat dengan baik.

"Menginjak tahun ketiga, ketika tabungan saya sudah cukup, saya pulang untuk mengambil STTB. Kedua orang tua menangis ketika saya kemudian mengatakan mau bersekolah SMP. Jadilah saya kemudian malam hingga pagi bekerja sebagai kuli angkat barang di pasar. Pagi sampai siang, setelah masak saya menjadi kuli bangunan. Siang saya menjadi siswa SMP di SMP Vijaya Kusuma Denpasar sembari berjualan nasi bungkus di kantin," ujar dia.

Setelah tamat SMP, Made Ayu melanjutkan sekolah ke jenjang SMEA. Sayangnya sekolah ini tidak terselesaikan, hingga akhirnya ia menikah dengan teman sesama perantauan dari Karangasem.

Kehidupan berumah tangga tak membuat nasib Made Ayu berubah. Kembali ke Karangasem dan tinggal di gubuk beratap daun kelapa, Made Ayu mencoba mengadu nasib dengan berjualan keliling. Menjual makanan, alat upacara atau buah, hingga perlahan roda nasib kemudian agak bergerak naik. Perlahan-lahan, Made Ayu bisa membangun rumah dan membangun toko kecil di depan rumah.

Dikarenakan tuntutan hidup yang tinggi, sedangkan hasil berjualan di toko tidak menentu, akhirnya Made Ayu kembali lagi melakoni pekerjaan sebagai buruh bangunan. Mengaduk semen, naik ke genteng yang tinggi, mengangkut material bangunan, dan tidur seadanya beralas koran atau plastik, sudah biasa dilakoni perempuan ini.

"Sekarang pengharapan hidup saya adalah kedua anak saya. Saya akan berjuang habis-habisan, agar kedua anak saya bisa hidup lebih baik dari saya. Segala macam berjualan dari makanan hingga alat upacara sudah saya lakoni, hingga saya kembali lagi menjadi buruh bangunan, saya ikhlas asal anak-anak saya dapat makan dan meneruskan sekolah. Cuma saya sedihnya, Agus Krisnha anak sulung saya ingin sekali melanjutkan kuliah setelah tamat SMK, tapi saya tidak punya uang untuk membiayai. Bayaran sebagai buruh bangunan Rp75 ribu per hari, mana mencukupi biaya kuliah," ujarnya dengan nada pilu.

Padahal, kata dia, Agus Krisnha sejak kecil sudah berprestasi. Nilai rapornya selalu bagus dan sering memenangkan berbagai perlombaan.

Namun barangkali faktor ekonomi, yang membuat keinginan Agus Krisnha untuk melanjutkan kuliah menjadi terhambat. Penghasilan Made Ayu sebagai buruh bangunan tidak akan mencukupi untuk membiayai anaknya jika ingin kuliah di perguruan tinggi, dikarenakan dia masih harus menanggung biaya hidup sehari-hari dan membiayai sekolah anak keduanya yang masih SMP.

"Tapi saya tidak akan berhenti berjuang demi kedua anak saya. Setiap nafas saya untuk memperjuangkan nasib kedua anak, agar kelak memiliki masa depan yang jauh lebih baik dibandingkan kedua orang tuanya," ujarnya dengan nada yakin.

Made Ayu, barangkali mewakili jutaan perempuan Indonesia yang nasibnya kurang beruntung. Terseok-seok menjalani hidup, tapi tetap tak gentar berusaha dan berupaya demi masa depan keluarga yang lebih baik.

Sesungguhnya, Made Ayu dan jutaan perempuan lain yang tak henti berjuang demi memperbaiki nasib keluarga, merupakan sosok "Kartini" era kini yang rela mencucurkan keringat dan air mata, agar keluarga khususnya anak-anaknya, dapat meneruskan sekolah dan menikmati hidup dengan lebih layak.

Tri Vivi Suryani

(Penulis buku dan artikel lepas di Bali)

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x