NEWS STORY: Catatan Kelam Pasukan Siliwangi Perang Saudara dengan Anak Buah Slamet Rijadi

Ilustrasi (Foto: SINDO)

Ilustrasi (Foto: SINDO)

TANPA mengurangi rasa hormat pada kesatuan tentara republik lainnya, Pasukan Siliwangi boleh dibilang jadi satuan para petarung di masa revolusi fisik 1945-1949 yang paling diperhitungkan lawan maupun kawan. Berdiri pada 20 Mei 71 tahun lampau (1946), kesatuan berlogo maung alias macan itu acap didera ujian tak terhingga.

Kesatuan yang awalnya berasal dari Tentara Keamanan Rakyat Komandemen Jawa Barat (Jabar) itu bersama elemen laskar dan rakyat, harus terusir dari Jakarta di kwartal akhir 1945 dengan garis demarkasi Kali Cakung.

Harus pula menghadapi serangan pertama Agresi Militer I Belanda (21 Juli 1947), di mana garis demarkasi yang sudah mundur ke Kali Bekasi, akhirnya bisa dijebol juga oleh Belanda dengan bantuan milisi lokal pengkhianat HAMOT (Hare Majesteit's Ongeregelde Tropen).

Ditambah, Siliwangi harus “terusir” dari Jabar dan terpaksa hijrah ke Jawa Tengah dan Jawa Barat akibat Perjanjian Renville (17 Januari 1948). Belum lagi dalam catatannya juga acap memburu “teman” sendiri.

Ya, tidak hanya untuk Belanda, rentetan tembakan senjata yang dimiliki Pasukan Siliwangi juga mesti ditargetkan ke kelompok lokal pemberontak. Seperti DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) dan FDR (Front Demokrasi Rakyat) di Madiun.

Pasukan Siliwangi Diserang Pasukan Bersyal Merah

Tapi salah satu konflik terhadap elemen perjuangan lain yang paling diingat dan tercatat dalam lembar sejarah Pasukan Siliwangi, adalah kontak senjata besar-besaran dengan Pasukan Panembahan Senopati, salah satu pasukan dalam Komando Pertempuran Daerah Surakarta pimpinan Mayor Ignatius Slamet Rijadi, 13 September 1948.

Perang saudara pun meletus. Pasukan bersyal merah Brigade VII Tentara Laut Republik Indonesia (TLRI) dari Komando Pertempuran Panembahan Senopati, melancarkan serangan ke kawasan Solo Balapan, di mana terdapat Brigade XII/Siliwangi bermarkas.

Anak-anak Siliwangi di bawah komando Kapten Oking lantas melakukan perlawanan alot. Para petarung maung lain yang awalnya bertugas sebagai keamanan Pekan Olahraga Nasional I di Stadion Sriwedari, sebagian dikerahkan membantu perlawanan anak buah Kapten Oking.

Pasukan Panembahan Senopati gagal menghabisi Siliwangi dan sukses dipaksa mundur pada 14 September dini hari. “Pertempuran sengit itu menimbulkan 14 orang korban,” ungkap Soe Hok Gie di bukunya, ‘Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan’.

Kabar meletusnya perang saudara Siliwangi vs Panembahan Senopati itu tentu sampai pula ke telinga Panglima Besar (Pangsar) Jenderal Soedirman. Ketika dimintai penjelasan kepada Letkol Sadikin, Komandan Brigade II KRU (Kesatuan Reserve Umum) Siliwangi, sempat terjadi perdebatan yang tidak mengenakkan antara Sadikin dan Jenderal Soedirman.

Dari informasi yang bertebaran, Jenderal Soedirman yang datang ke Loji Gandrung (kini Rumah Dinas Wali Kota Solo) mempertanyakan soal sejumlah aksi penculikan yang terjadi di Solo, hingga terjadinya kesalahpahaman antara Pasukan Siliwangi dan Panembahan Senopati.

Adu Mulut Jenderal Soedirman dan Letkol Sadikin

Pangsar Jenderal Soedirman juga sempat menuding salah satu perwira Siliwangi berjuluk “Begundal Karawang” Mayor Lukas Kustaryo dan anak buahnya, terlibat penculikan perwira-perwira Panembahan Senopati, termasuk Kolonel Soetarto.

Begini perdebatan Soedirman dan Sadikin terkait hal itu sebagaimana termaktub di buku ‘Ignatius Slamet Rijadi: Dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS’ karya Julius Pour:

Pangsar Jenderal Soedirman: Jangan pikir apa-apa dulu, kecuali satu, bagaimana perasaanmu sebagai tentara jika perwiramu jadi korban penculikan?

Letkol Sadikin: Tentu saja saya sangat marah dan tidak senang. Saya pasti akan menuntut balas.

Soedirman: Memang, semua juga tidak ada yang senang. Oleh karena itu bebaskan saja para perwira yang sudah terlanjur kau tahan.

Sadikin: Maaf Panglima, saya sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai penculikan. Saya juga tidak punya informasi sedikit pun mengenai persoalan yang diributkan. Justru dengan adanya perintas kepada saya untuk membebaskan, saya sudah merasa dituduh terlibat aksi penculikan dan dimintai bertanggung jawab. Apa kesalahan saya dan anak buah saya? Pokoknya, Siliwangi tidak pernah melakukan penculikan!

Soedirman: Slamet Rijadi anak saya!

Sadikin: Lantas..., saya anak siapa?

Dan percakapan keduanya pun berakhir buntu. Pun begitu pembicaraan selama kurang lebih 2 jam itu menelurkan keputusan bahwa setiap pasukan tidak boleh lagi menenteng senjatanya keluar asrama.

Patroli dan penjagaan objek-objek di kota dilimpahkan ke Corps Polisi Militer (CPM), kepolisian dan Komando Militer Kota (KMK). Adapun semua pengamanan di Solo, hingga Semarang dan Madiun dipercayakan kepada Kolonel Gatot Soebroto yang diangkat jadi Gubernur Militer (Gubmil) yang turut disetujui Presiden Soekarno.

18 September 1948, Kolonel Gatot sebagai Gubmil mengeluarkan pengumuman untuk setiap pihak menghentikan baku tembak paling lambat 20 September pukul 12.00 dan keesokannya diwajibkan pimpinan Siliwangi dan Panembahan Senopati untuk menghadap Gubmil di Kantor Karesidenan Surakarta.

Di kemudian hari, baru nyata benar bahwa “perang saudara” di Solo itu merupakan hasil hasutan kaum komunis dan FDR. Lawan yang kemudian turut dikejar Siliwangi sampai ke Madiun di bulan yang sama dalam peristiwa Madiun Affair atau Pemberontakan Komunis di Madiun 1948.

(raw)
TAG : News
Live Streaming
Logo
breaking news x