Polri Diminta Segera Ungkap Kasus Penyiram Air Keras Terhadap Novel Baswedan

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) diminta untuk tak gentar dan terus melakukan pemberantasan korupsi meski terdapat teror seperti yang menimpa penyidik senior lembaga antirasuah, Novel Baswedan.

"Kita tahu penyidik KPK, Novel Baswedan sempat mengalami penyerangan. Kita tidak mau hal ini melemahkan pemberantasan korupsi di Indonesia," kata Ketua DPC AAI Jaktim Andar Sidabalok di Jakarta, Sabtu (20/5/2017).

Sementara mantan Ketua DPC AAI Jaktim, Timbul Hutapea mengatakan, Polri harus segera melakukan pengungkapan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Hal itu lantaran agar tidak ada pihak-pihak yang ingin mele‎mahkan KPK.

"Kami percaya Polri sebagai mitra AAI akan bertindak cepat dan transparan demi meningkatkan kepercayaan publik. Kami mempercayakan Kepada Kapolri Jendral Tito Karnavian untuk bersama-sama mencegah dan menindak siapapun yang melemahkan pemberantasan korupsi di Indonesia," sambungnya.

Dikatakan Timbul, seorang advokat harus bersikap tegas dalam pemberantasan korupsi. Oleh karena itu, pihaknya mendukung KPK untuk tak takut menangkap pelaku korup di Indonesia.

“Kami siap menjadi garda terdepan dalam membantu untuk mencegah tindak pidana korupsi. Saat ini kami memberikan dukungan kami terhadap KPK agar tidak segan dan takut kepada siapapun untuk menangkap pelaku korupsi," tandasnya.

Dalam kasus teror ini, polisi sudah bolak-balik mengamankan sejumlah orang. Namun, belum ada dari orang-orang tersebut yang mengarah sebagai dalang maupun pelaku teror penyiraman air keras ke penyidik KPK, Novel Baswedan.

Tercatat, dua orang yang pernah dimintai keterangan adalah Hasan dan Muklis yang diketahui sebagai "mata elang" dan cepu dari polisi untuk informasi kasus pencurian kendaraan bermotor. Selanjutnya, pria berinisial AL yang diketahui sebagai sekuriti di tempat spa di wilayah Jakarta Barat. Lalu, Niko Panji Tirtayasa alias Miko yang diperiksa merujuk video viralnya di media sosial.

Dalam video berdurasi 2.40 menit tersebut, Miko meminta maaf kepada pamannya Mochtar Effendi atas kejahatannya menjadi saksi palsu di KPK untuk kasus yang menjerat pamannya dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar. Kala memberikan kesaksian, Miko mengaku dinterograsi Novel Baswedan cs.

Sekadar informasi, Novel Baswedan mendapatkan teror penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal usai menjalankan Solat Subuh di sebuah Masjid di kawasan rum‎ahnya di Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Selasa, 11 April 2017. Akibatnya, Novel mengalami kerusakan mata yang cukup parah. (sym)

(erh)
TAG : kasus kasus
Live Streaming
Logo
breaking news x