Nah! Fatwa Penggunaan Medsos MUI untuk Tingkatkan Harkat dan Martabat Warganet

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam (Foto: Okezone)

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Niam (Foto: Okezone)

JAKARTA – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarkan fatwa bahwa menulis ujaran kebencian dan menyebarkan berita bohong (hoax) merupakan tindakan yang haram. Fatwa itu dapat menjadi pedoman saat menggunakan media sosial (medsos).

Sekretaris Komisi Fatwa MUI Asrorun Ni'am mengatakan, fatwa tersebut dibuat guna meningkatkan harkat dan martabat warganet dalam berekspresi di dunia maya.

"Masalah ini dalam kajian MUI sudah cukup mengkhawatirkan dan mengancam stabilitas nasional," katanya dalam Diskusi Redbons bertajuk 'Geliat Media Sosial Pasca-Fatwa Medsosiah MUI' di Gedung MNC News Center, Jakarta, Kamis (8/6/2017).

Ia melanjutkan, fatwa itu merupakan cara MUI memberikan solusi dari masalah tersebut sebagai komponen utama yang dimiliki Indonesia.

"Fatwa ini lebih banyak inisiatif dari MUI itu sendiri dan pesannya tidak hanya perspektif keagamaan. Kami juga mengundang Menkominfo, kemudian kita mengundang ahli, hingga akhirnya fatwa ini ditetapkan memuat dua hal, yang halal dan haram dalam medsos," urainya.

Asrorun berharap, fatwa MUI mampu meredam kegaduhan yang marak terjadi di medsos. Apalagi, perkembangan medsos yang semakin pesat membuat warganet harus lebih bijak dalam berekspresi di dunia maya.

"‎Harus mampu memahami mana yang ranah publik dan mana yang informasi. Kita kadang menyebarkan informasi tanpa kita baca terlebih dahulu. Apalagi judulnya berita itu dukungan kepada kita atau golongannya. Itu sangat penting untuk diingatkan kepada muslim agar medsos kembali pada awalnya, yaitu kepentingan sosial, pencarian informasi yang baik dan bermanfaat," katanya.

(erh)
Live Streaming
Logo
breaking news x