Perjuangan Mahasiswa Indonesia Berhasil Taklukan Puncak Mc Kinley di AS

Foto: Dok Unair

Foto: Dok Unair

JAKARTA - Tiga atlet Airlangga Indonesia Denali Expedition (AIDeX) Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Wanala Universitas Airlangga (Unair) berhasil mencapai puncak Mc Kinley di Amerika Serikat.

Untuk mencapai puncak, banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi oleh tim. Perjalanan menuju puncak Mc. Kinley dari kamp lima dimulai pada Kamis (15/6/2017) pada pukul 03.00 dini hari waktu Indonesia. Untuk mencapai puncak, mereka menempuh jarak sejauh 2,5 mil.

Semula pendakian dari kamp lima menuju puncak Denali diperkirakan akan berlangsung selama tujuh jam. Namun, karena banyak faktor menyebabkan perjalanan tim terlambat.

Manajer atlet AIDeX, Wahyu Nur Wahid mengatakan, saat melakukan pendakian menuju puncak, cuaca Denali cukup bersahabat. Para tim dihadapkan pada keadaan snow showers (anomali cuaca cerah dan hujan salju) dengan ketebalan salju mencapai 27 sentimeter. Selain itu, temperatur di puncak Denali mencapai minus 47 derajat Celcius.

Tak hanya suhu, soal pernapasan dan kendali diri menjadi salah satu penentu keberhasilan para atlet. “Para atlet harus membiasakan diri dalam hal pernapasan di dataran tinggi karena kadar oksigen yang tipis,” tuturnya seperti dilansir dari laman Unair, Senin (19/6/2017).

Selama pendakian di Denali termasuk puncak, kata Wahyu, mereka menggunakan teknik moving together yaitu mendaki bersama-sama yang dihubungkan dengan tali. Selain itu, ketika melakukan summit attack para atlet juga membawa beban seberat 10 kilogram.

Beban barang bawaan itu terdiri dari peralatan keamanan, obat P3K, logistik, bendera, alat dokumentasi, dan perlengkapan pribadi.

Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara itu mengatakan, keberhasilan dalam pendakian Gunung Denali merupakan kebanggaan tersendiri bagi ia dan tim ekspedisi. Pasalnya, Denali merupakan salah satu gunung tersulit dalam rangkaian seven summit dunia.

“Trek di Denali cukup panjang. Tim harus menempuh perjalanan sejauh 79 kilometer dari base camp untuk menuju puncak. Bila ditotal mereka harus menghabiskan waktu selama 19 hari dari perjalanan base camp menuju puncak,” paparnya.

Awal Pendakian

Saat awal pendakian, kata Wahyu, para atlet mendaki Denali tepat pada musim panas waktu setempat. Musim tersebut diyakini paling tepat untuk melakukan pendakian di Denali. Meski demikian, sejak awal pendakian suhu di Denali tak lepas dari temperatur ekstrem. Suhu di Denali berkisar antara minus 2 derajat Celcius hingga minus 67 derajat Celcius.

Selain suhu, sejak hari pertama pendakian mereka kerap kali dihadapkan pada ketebalan salju. Ketebalan salju mencapai setinggi lutut orang dewasa. Hal itu terjadi bahkan ketika mereka belum sampai di kamp pertama di ketinggian 7.600 kaki.

Selama pendakian, mereka melakukan aklimatisasi (penyesuaian suhu tubuh di ketinggian) dengan naik turun ketinggian. Selama itu, ketiga atlet melakukan perjalanan dan menimbun bahan logistik (makanan dan bahan bakar) di timbunan salju. Tujuannya, untuk menyimpan makanan dalam keadaan darurat ataupun cadangan makanan ketika sudah turun.

Mereka juga dihadapkan pada keadaan geografis Denali yang dipenuhi jurang es, khususnya di titik Below Kahiltna Pass atau 9.350 kaki.

Ketua ekspedisi, Faishal menuturkan seven summits adalah wujud kecintaan organisasi Wanala kepada alam dan tanah air. “Sebagai organisasi mahasiswa pecinta alam, maka ini adalah cara kami menunjukkan harga diri kami sebagai sebuah organisasi,” ujarnya.

Denali bukanlah puncak pertama yang didaki oleh anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam (UKM Wanala). Empat dari tujuh puncak tertinggi yang telah digapai tim adalah Puncak Carztenz Pyramid (Indonesia/1994), Kilimanjaro (Tanzania/2009), Elbrus (Rusia/2011), dan Aconcagua (Argentina/2013).

Selain ke Denali, ekspedisi ke Vinson Massif di Antartika serta Everest di Himalaya akan menggenapi ekspedisi seven summits anggota UKM Wanala.

(sus)
Live Streaming
Logo
breaking news x