Siapa Sosok Berinisial H dan T yang Ditangkap KPK Bersama Pimpinan DPRD Mojokerto?

Ketua DPRD Mojokerto Purnomo usai di OTT KPK (Antara)

Ketua DPRD Mojokerto Purnomo usai di OTT KPK (Antara)

MOJOKERTO - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meringkus enam orang dalam operasi tangkap tangan (OTT) kasus suap di Mojokerto, Jawa Timur. Empat orang di antaranya sudah dijadikan tersangka, namun dua lagi berinisial H dan T masih saksi. Siapa sosok keduanya?

KPK sudah menetapkan Ketua DPRD Kota Mojokerto asal PDI Perjuangan, Purnomo sebagai tersangka kasus dugaan suap pemulusan pengalihan anggaran hibah Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) menjadi anggaran Program Penataan Lingkungan pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Mojokerto, tahun anggaran 2017.

Selain itu, dua Wakil Ketua DPRD Kota Mojokerto yakni Umar Faruq dan Abdullah Fanani serta Kepala Dinas PUPR Kota Mojokerto, Wiwiet Febriyanto, juga dijadikan tersangka kasus suap pengalihan anggaran senilai Rp 13 miliar itu.

Mereka terkena OTT KPK pada Jumat 16 Juni hingga Sabtu 17 Juni 2017 dini hari. Dari tangan ketiganya, KPK juga menyita uang tunai sebesar Rp 470 juta. Rinciannya, Rp 300 juta di mobil H yang ditangkap bersama Purnomo dan Faruq, Rp 140 juta dari tangan Wiwiet dan Rp 30 juta dari tangan T.

Dalam penangkapan itu, petugas juga membawa H dan T ke kantor KPK untuk dilakukan pemeriksaan. Hingga kini, KPK masih menetapkan H dan T sebagai saksi. Keduanya disebut sebagai perantara dalam kasus suap yang menjerat seluruh unsur pimpinan di DPRD Kota Mojokerto.

Dari penelusuran Okezone, pria berinisi H ini disebut-sebut merupakan Hanif sedangkan T diduga merupakan Taufik. Kendati bukan seorang PNS, namun di kalangan para pejabat Pemkot dan anggota DPRD Mojokerto, ternyata dua sosok tersebut tidaklah asing.

Di kalangan para rekanan proyek, H dan T dikenal memang orang kepercayaannya Kadis PUPR Mojokerto Wiwiet Febrianto. H diketahui merupakan seorang tenaga konsultan yang jasanya kerap digunakan dalam pelaksanaan proyek di Dinas PUPR.

Sementara T yang juga ditangkap bersamaan dengan uang Rp 30 juta, diketahui juga merupakan konsultan proyek sekaligus kontraktor yang sudah malang melintang di Kota Mojokerto. Kurun waktu dua tahun terakhir ini, T disebut-sebut sebagai warga Suratan, Surodinawan, Mojokerto merupakan salah satu kontraktor yang memiliki banyak pekerjaan di Kota Onde-Onde.

Selain itu, T juga disebut-sebut memiliki kedekatan yang cukup baik dengan beberapa pejabat. Utamanya pejabat di dinas teknis, seperti Dinas Pertanian, Dinas Peternakan. Bahkan T dikabarkan memiliki akses langsung ke pemangku kebijakan.

Namun, Kabag Humas Pemkot Mojokerto, Choirul Anwar membantah jika H dan T memiliki kedekatan dengan para pejabat di Pemkot Mojokerto. "Saya tidak tahu dengan dua orang itu. Saya memang tahu nama satu orang yang diamankan itu Taufik, tapi itu dari berita," kata Anwar, Senin (19/6/2017).

Selain itu, Anwar juga membantah keras jika T memiliki akses langsung ke Walkot Mojokerto, Masud Yunus. Menurutnya, selama ini Walkot tidak pernah bertemu dengan para kontraktor terkait dengan proyek di Kota Mojokerto.

"Setahu saya, Pak Wali tidak pernah bersedia bertemu di kantornya kalau urusan proyek. Karena beliau selalu menyerahkan ke instansi yang berwenang dan sesuai dengan mekanisme yang ada," pungkasnya.

(sal)
Live Streaming
Logo
breaking news x