facebook pixel

Chrysler Tepis Hengkang dari Jepang meski Penjualannya Anjlok

(Foto: Reuters)

(Foto: Reuters)

TOKYO - Produsen mobil Amerika Serikat Fiat Chrysler Automobiles (FCA) menepis akan menghentikan penjualan merek Chrysler di Jepang. Pengumuman ini merupakan respons terhadap laporan media lokal Jepang yang menyebutkan bahwa Chrysler akan dihentikan penjualannya mulai awal 2018 karena minimnya penjualan.

FCA membawahi beberapa merek kendaraan Amerika dan Italia, di antaranya Jeep, Fiat, Chrysler, Dodge, dan Alfa Romeo.

"Meskipun FCA telah mengumumkan akan mengonsentrasikan sumber dayanya pada merek Jeep, tapi tidak ada keputusan yang sudah dibuat sejauh ini mengenai merek Chrysler," demikian pernyataan FCA yang dikutip dari Reuters.

Sebelumnya harian bisnis Jepang, Nikkei, melaporkan FCA memutuskan akan menghentikan penjualan Chrysler lantara penjualannya terus menurun. Pada 2016, FCA hanya bisa menjual tidak lebih dari 300 unit kendaraan. Penjualannya terus menurun sejak tahun 2000-an.

Saat ini FCA hanya menjual satu model kendaraan di Jepang yakni sedan mewah 300. Itu pun dijual di diler Jeep.

Sementara itu, merek Fiat dan Jeep justru semakin diminati. Pada 2016, FCA menjual kendaraan merek Fiat sebanyak 6.700 unit dan Jeep 9.400 unit. Jumlah itu menempatkan Fiat dan Jeep dalam posisi 10 besar merek asing paling diminati di Jepang.

Mobil buatan pabrikan asing mendapatkan porsi cukup sedikit jika dibandingkan total penjualan kendaraan di Jepang. Pada tahun lalu sebanyak 295 ribu mobil merek non-Jepang terjual. Namun angka tersebut hanya 10 persen dari total penjualan kendaraan baru di Negeri Sakura.

Merek kendaraan Amerika harus bersaing ketat dengan produk lokal atau Eropa. Kuatnya persaingan membuat salah satu pabrikan automotif Negeri Paman Sam, Ford, mengumumkan penghentian penjualan pada awal 2016.

Penjualan mobil AS di Jepang semakin menurun dari tahun ke tahun. Produsen AS hanya bisa menjual 13 ribu mobil di Jepang sepanjang 2015 dan 2016. Itu pun, tiga perempatnya dikuasai oleh merek Jeep. Sementara Ford hanya mampu menjual 2.400 mobil sepanjang 2016.

Kondisi ini semakin memperlebar defisit perdagangan kedua negara. Data Kementerian Perdagangan AS menyebutkan defisit perdagangan AS dengan Jepang pada 2016 mencapai USD68,9 miliar. Dari jumlah itu, USD52,6 juta di antaranya berasal dari kendaraan dan komponen.

Sebagai perbandingan juga, produsen mobil Jepang menguasai lebih dari 90 persen total pasar kendaraan di negaranya. Sangat jomplang dengan kondisi di AS, di mana produsen mobil lokal, yakni General Motors, Ford Motor, dan FCA, hanya menguasai 45 persen dari total pasar. Padahal AS merupakan pasar kendaraan terbesar kedua di dunia setelah China.

(ton)
​