Ketum Perindo Dizalimi, Jaksa Agung Dianggap Lakukan Abuse of Power dalam Kasus SMS Hary Tanoe

JAKARTA - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Nico Uskono menyebut pernyataan Jaksa Agung bahwa Hary Tanoe menjadi tersangka dalam kasus dugaan SMS bernada ancaman kepada Jaksa Yuliantosebagai tindakan gegabah.

Hal tersebut karena apa yang diungkapkan Jaksa Agung langsung dibantah oleh Polri. Sesuai yang disampaikan kepolisian, bahwa kasus ini masih di tingkat penyelidikan. Polisi belum menetapkan tersangka dalam kasus ini.

“Kesalahan prosedur Prasetyo ini menunjukkan adanya pencemaran nama baik terhadap Hary Tanoe. Karena itu, Prasetyo melanggar dugaan tindak pidana fitnah dan pencemaran nama baik," jelas Nico dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (20/6/2017).

Niko juga mewanti-wanti sikap yang diambil Prasetyo merupakan bagian dari penyalahgunaan kekuasaan sebagai pimpinan lembaga negara. Seharusnya Prasetyo bertindak independen.

“Sikap yang ditunjukkan oleh Prasetyo merupakan bentuk dari abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) dari pejabat Negara, yang menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang. Prasetyo telah menunjukkan arogansi kekuasaan, dengan menggunakan hukum yang tidak sesuai prosedur untuk menghakimi warga negara,” imbuh Nico.

Sebagaimana diketahui, Jaksa Yulianto melaporkan Hary Tanoe ke Bareskrim Polri pada 28 Januari 2016 atas tuduhan melanggar Pasal 28 UU ITE. SMS yang dikirimkan Hary Tanoe kepadanya pada 5 Januari 2016 dianggap Jaksa Yulianto sebagai ancaman.

Tak cukup bukti, kasus itu tidak ditindaklanjuti. Kini setelah 1,5 tahun kasus tersebut kembali diangkat. Hary Tanoe dipanggil Bareskrim Polri untuk dimintai keterangan terkait SMS itu pada Senin 12 Juni pagi dan berstatus sebagai saksi terlapor.

Jaksa Agung, HM Prasetyo pun secara mengejutkan mengungkapkan bahwa Hary Tanoe sudah menjadi tersangka dalam kasus ini. Padahal polisi membantah kabar tersebut dengan menyebut kasus ini masih di tahap awal penyelidikan.

(kha)
Live Streaming
Logo
breaking news x