Ketum Perindo Dizalimi, Jaksa Agung Harus Minta Maaf ke Hary Tanoe

JAKARTA - Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Nico Uskono menyebut bahwa Jaksa Agung HM Prasetyo menyebar hoax dengan menyebut Ketua Umum Partai Perindo, Hary Tanoesoedibjo sebagai tersangka kasus SMS kepada Jaksa Yulianto.

Mantan Deputy President Asian Youth Council tersebut juga menduga pernyataan Prasetyo bukanlah pernyataan hukum, tetapi pernyataan politik.

“Prasetyo yang pernah menjadi anggota partai tertentu menggunakan kekuasaan yang dimilikinya dalam memperlakukan Hary Tanoe,” kata Nico.

Oleh karena itu, Nico berharap Prasetyo sebagai pimpinan lembaga negara dapat menunjukkan sikap kenegarawanannya, sportivitasnya dengan meminta maaf atas penyebutan tersebut dengan konsekuensi menarik kembali pernyataan tersebut. Ia juga meminta pemerintah untuk ke depannya memilih pimpinan lembaga hukum negara yang kredibel, transparan dan independen.

“Dari kasus ini dapat dipetik suatu pelajaran berharga bahwa alangkah eloknya para pejabat publik di bidang hukum tidak berasal dari partai politik dan/atau yang berafiliasi dengan partai politik tertentu,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Jaksa Yulianto melaporkan Hary Tanoe ke Bareskrim Polri pada 28 Januari 2016 atas tuduhan melanggar Pasal 28 UU ITE. SMS yang dikirimkan Hary Tanoe kepadanya pada 5 Januari 2016 dianggap Jaksa Yulianto sebagai ancaman.

Tak cukup bukti, kasus itu tidak ditindaklanjuti. Kini setelah 1,5 tahun kasus tersebut kembali diangkat. Hary Tanoe dipanggil Bareskrim Polri untuk dimintai keterangan terkait SMS itu pada Senin 12 Juni pagi dan berstatus sebagai saksi terlapor.

Jaksa Agung, HM Prasetyo pun secara mengejutkan mengungkapkan bahwa Hary Tanoe sudah menjadi tersangka dalam kasus ini. Padahal polisi membantah kabar tersebut dengan menyebut kasus ini masih di tahap awal penyelidikan.

(kha)
Live Streaming
Logo
breaking news x