getting time...

Premanisme di Dunia Pendidikan

Lewat Koridor di 'Jalur Gaza', Berhadiah Bogem

Muhammad Saifullah - Okezone
Rabu, 11 November 2009 11:56 wib
Salah satu sudut di SMAN 82, Jakarta (Foto: kaskus)
Salah satu sudut di SMAN 82, Jakarta (Foto: kaskus)

JAKARTA - Entah sejak kapan istilah "Jalur Gaza" ditetapkan sebagai nama sebuah tempat di lingkungan SMA 82, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Yang jelas, publik luas baru ngeh dan terperangah sejak pekan kemarin, saat musibah menimpa Ade Fauzan Mahfuza, siswa kelas X-2.

Kekerasan yang dialami remaja berusia 15 tahun itu menjadi momentum terkuaknya sebuah sistem yang menolerir kekerasan sistematis di lembaga pendidikan yang menjadi lembaga pendidikan percontohan anti-bullying itu. Sungguh ironis, tapi itulah fakta yang terjadi.

Ade mendapatkan enam jahitan di bagian mulut dan memar-memar di bagian belakang kepala, setelah dikeroyok para seniornya pada Selasa, 3 November lalu. Kekerasan secara psikologis berupa hinaan dan caci maki juga dia terima dari para seniornya. Akibatnya, Ade terpaksa menginap di RS Pusat Pertamina sejak Selasa, 3 November lalu, untuk menjalani perawatan.

"Penyebabnya sepele, karena saya masuk ke Jalur Gaza yang terlarang bagi siswa kelas I dan II. Padahal saya cuma mengambil buku yang tertinggal saat ujian sehari sebelumnya," ujar Ade saat berbincang dengan okezone di RSPP, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Istilah Jalur Gaza, menurut Ade, merujuk pada areal di sepanjang teras di depan ruang murid kelas III. Gedung yang ditempati siswa kelas III sendiri terdiri dari enam ruang. Masing-masing tiga ruang untuk kelas III IPS dan IPA. "Empat ruang ada di lantai I di depan lapangan basket dan dua ruang lainnya berada di lantai dua," ujar Ade sambil meringis menahan perih bekas luka di bibirnya.

Putra Marlina Angriani itu mengaku tidak tahu sejak kapan ? Jalur Gaza? muncul di tempat dia menuntut ilmu sejak enam bulan terakhir itu. Yang jelas, keberadaan area terlarang itu sudah diinformasikan saat Masa Orientasi Siswa (MOS). "Para senior OSIS yang menyampaikan," ujarnya.

Praktis, sejak saat itu tidak ada satu pun siswa kelas I yang berani memasuki wilayah terlarang itu. Begitu pula dengan para siswa kelas II yang sudah terlebih dulu mengetahui larangan tersebut. "Dari 229 teman saya di kelas I, belum pernah ada yang melanggarnya," ujar dia.

Salah seorang alumnus SMAN 82 angkatan tahun 2002, Bebi Apriliani menyatakan prihatin atas musibah yang menimpa juniornya. Bebi mengaku, sejak dia sekolah di SMAN 82, istilah daerah terlarang sudah ada.

"Sejak saya masuk tahun 1999 memang sudah ada koridor yang dilarang untuk dilalui selain anak kelas III. Tapi namanya belum Jalur Gaza," ungkapnya.

Ade bukan korban pertama dari "Jalur Gaza". Beberapa tahun lalu, juga ada siswa yang melapor ke polisi karena mendapat penganiayaan dari seniornya. Wajah siswa itu dicoret-coret lantaran memasuki wilayah terlarang. "Kasusnya sudah ditangani polisi," ungkap dia. (ful)
(ahm)

Komentar (42) :
  • ayu
    Minggu, 14 Maret 2010 17:51 wib
    kok bisa ya... keadaan intern sekolah tidak terdeteksi sperti itu hingga bertahun-tahun? pendidiknya kemana? ngerjain apa?... tanggung jawab di dalam sekolah adalah guru.. gak malu tuh.. ???? Laporkan
  • ganind
    Rabu, 03 Maret 2010 16:13 wib
    hapuskan pelajaran agama, sudah terbukti gagal membangun karakter bangsa, berikan budi pekerti yang merupakan warisan negeri, sikap toleran anti kekerasan lebih berguna daripada hapalan agama. Laporkan
  • mas boy
    Minggu, 07 Februari 2010 06:20 wib
    memprihatinkan,bukan nya belajar yang sungguh"untuk menciptakan indonesia maju seperti di korea ini, malah aneh aneh yang di ciptakan, tak ada manfaatnya jalur itu Laporkan