getting time...

Kisah Pilu Bocah Korban Tsunami Aceh

Salman Mardira - Okezone
Selasa, 20 Juli 2010 12:00 wib
Penyemir sepatu. (Foto: yauhui.net)
Penyemir sepatu. (Foto: yauhui.net)

BANDA ACEH - Tsunami telah merampas kehidupan Rian. Tinggal sebatang kara tanpa keluarga, kini dia harus mengais rezeki dari kaki ke kaki.

Bocah itu memasuki sebuah warung kopi di kawasan Taman Sari, Banda Aceh. Matanya menatap tiap sudut yang diisi pengunjung, kemudian didekatinya untuk menawar jasa menyemir sepatu.
 
Begitulah aktivitas Rian Saputra (13) saban hari. Usai berstatus yatim piatu, hidupnya berubah 180 derajat. Rian jadi anak liar setelah ditinggal kedua orangtuanya yang raib ditelan musibah tsunami lima tahun silam.
 
Bermodal sepeda hibah seorang dermawan dan sebuah kotak berisi perkakas semir sepatu, dia berpetualang dari satu warung ke warung lainnya di Banda Aceh, untuk mengais rezeki tiap hari. Pendidikannya pun rela dikorbankan.

"Nggak sekolah lagi," kata Rian singkat.

Usai lulus di SD Muhammadyah Banda Aceh. Rian sempat melanjutkan ke SMP 17 Banda Aceh. Tapi beranjak naik kelas II, dia keluar dan memilih jadi penyemir sepatu. "Saya bisa beli apa yang saya suka dengan bekerja seperti ini," ujarnya.

Rian kerap dibayar Rp5 ribu tiap sepasang sepatu yang disemirnya. Dia menolak menyebutkan jumlah omset didapatnya sehari, bahkan kepada ibu angkatnya sekalipun.

Rian asal Dusun Tongkol, Desa Ulee Lheu, Kecamatan Meuraksa, Banda Aceh. Saat tsunami menghujam Aceh 26 Desember 2004, kawasan itu lenyap. Sekitar 14 ribu warga di sana termasuk keluarga Rian jadi korban.

Selamat dari amuk ombak gergaji, Rian dibawa oleh orang yang tak dikenalnya ke Lhoksuemawe, Aceh. "Di sana dia disuruh kerja semir sepatu. Sempat bekerja beberapa bulan kemudian dia lari karena merasa dirinya mau dijual," tutur Nilawati (40) ibu angkat Rian saat ditemui okezone, di rumahnya, beberapa waktu lalu.

Terlunta-lunta di kota kaya minyak dan gas alam itu, Rian akhirnya diboyong seseorang ke Banda Aceh. Nilawati dan suaminya Salmi (45) menampung bocah malang itu di rumah kumuh miliknya di bantaran Krueng Daroy, Blower, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh sejak 2007.

Nilawati dan Salmi bukan keluarga berada. Untuk menutupi biaya hidup, keduanya bekerja menjaja makanan ringan dan membakar jagung saban sore di Pantai Ulee Lheu. Pendapatannya sehari jauh dari cukup.

Keduannya memiliki enam anak. Kehadiran Rian di rumah berkontruksi kayu mirip gubuk itu jelas menambah beban biaya keluarga sangat sederhana itu. Tapi, Nilawati mengaku ikhlas menampung Rian. "Apa yang kami makan, kami kasih untuk dia. Rian sudah kami anggap anak kami sendiri, kami ikhlas, apalagi dia sudah yatim piatu," ujarnya.

Nilawati ikut membiayai Rian melanjutkan sekolahnya dan mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) seperti anak lain seusianya. Tapi, bocah itu lebih memilih bekerja.

Hidup Rian yang keras, membuatnya tertutup. Dia tak mengungkap alasannya meninggalkan bangku sekolah. Bahkan dia juga enggan berkisah kehidupannya bersama keluarga kandung sebelum tsunami. "Malah saya sendiri tidak tau nama orangtua kandung dia itu siapa," kata Nilawati.

Dia juga tak mudah percaya kepada semua orang. Kalau belum dikenalnya, sulit diajak berbicara. Malah, ada beberapa yang mendekati Rian dan mengakunya orangtua bocah itu, tapi Rian menolak tak mau ikut.

Tiga tahun bersama keluarga Nilawati beberapa orangtua asuh sempat mendekati Rian untuk diangkat menjadi anaknya. Tapi, Rian lebih memilih hidup di keluarga Nilawati.

Ironinya, meski dia korban tsunami, Rian tak pernah mendapat bantuan dari Pemerintah. Warisan orangtuanya juga tak diketahuinya. "Rian tidak pernah dapat bantuan. Kami tidak berharap dibantu, tapi setidaknya ada kepedulian Pemerintah," ujar Nilawati.

Selama Piala Dunia 2010 bergulir kehidupan Rian makin misterius. Dia jarang pulang ke rumah, kecuali untuk mengganti baju. Nilawati sendiri sulit mendeteksi keberadaan anak angkatnya itu. "Saya sudah nasihati dia, tapi memang Rian susah diatur jadi saya tidak tahu harus berbuat apa. Saya nggak mau dia tersinggung," tuturnya.

Mirisnya nasib Rian. Di saat anak seusianya mendapat pendidikan dan kehidupan layak, dia justru jadi bocah liar, bergerliya di jalanan.

Malam itu, jam menunjukkan pukul 19.40 WIB. Di balik meja-meja pengunjung, Rian pelan hilang meninggalkan warung kopi di kawasan Taman Sari, Banda Aceh. Mendayung sepeda sambil menenteng sebuah kotak kayu, dia kembali melanjutkan petualangnya ke warung lain, menawarkan jasa, untuk kaki-kaki bersepatu.
(hri)

Komentar (28) :
  • Aruni
    Kamis, 25 November 2010 11:33 wib
    Ya Allah berikanlah kemudahan rezeki untuk Ryan..... Ryan teman kecilku jangan menyerah ya sayang, teruslah bertahan pantang menyerah, hidup memang keras tapi setiap manusia telah diberi rezeki masing2 oleh Allah, hanya harapanku semoga ryan tetap melanjutkan pendidikan agar masa depannya lebih terjamin dan aku berharap ryan mendapat orgtua asuh yg bisa membiayai pendidikannya meskipun tidak harus pindah dari rumah Orgtua angkatnya, ataupun mendapat biaya siswa dari pemerintah agar Ryan tetap melanjut pendidikannya setinggi mungkin, jgn membebani terus pada orgtua angkatnya yg konon kehidupannya sendiri jg kekurangan, saluttt sama ibu angkat Ryan meski kehidupannya sendiri kekurangan tapi masih diberi hati nurani memelihara anak yatim piatu sperti Ryan...semoga Allah akan memberi pahala yang tak terhingga untuk org tua angkat Ryan...aminnn..... Laporkan
  • andre
    Selasa, 12 Oktober 2010 23:57 wib
    bunda yang mengasuh ryan jangan berkecil hati beginilah adanya pimpinan qt ini..... jangan bersedih .... Agama islam bukan agama peminta-minta... tetapi ryan pembawa rezeki bg bunda....ribuan malaikat pembawa reziki ada di samping bunda....ALLAH SWT, selalu menjaga bunda... ryan qamu jdilah orang yang baik2.. jln hidup itu sudah di tntukan oleh yang maha kuasa....mudah2han orang yg makan hak qm itu qt do'akan cpt kaya,, Laporkan
  • mhyka
    Sabtu, 09 Oktober 2010 21:12 wib
    turut sedih dengan nasib yang dialami rian,sepatutnya pemerintah lebih peka terhadap nasib anak anak yang terlantar apalagi yatim piatu seperti rian,sebab masa depan anak bangsa itu lebih penting dan sangat berharga bagi bangsa dan negara. Laporkan