tragedi sukhoi

Deby, Bocah Pengais Rezeki yang Bertaruh Nyawa

Banda Haruddin Tanjung - Okezone
Selasa, 20 Juli 2010 12:20 wib
Deby saat mengayuh sampannya. (Foto: Banda Haruddin Tanjung/okezone)
Deby saat mengayuh sampannya. (Foto: Banda Haruddin Tanjung/okezone)

PEKANBARU - Di saat bel sekolah tanda pulang berbunyi, Deby (13) langsung bergegas pulang ke rumahnya. Namun tidak seperti anak kebanyakan, bocah yang masih berusia 13 tahun tidak mengabiskan waktu untuk bermain dengan temannya, namun langsung bekerja mencari penumpang.

Pekerjaan yang dilakukannya pun bertarung dengan maut. Ini karena Deby harus mengayuh sampan di Sungai Siak, Pekanbaru yang dikenal sebagai sungai terdalam di Indonesia. Jasa sampan yang dia geluti ini, menyeberangkan penumpang dari Kecamatan Rumbai yang dibelah sungai menuju pusat kota Pekanbaru.

Sampan yang dia miliki ini ukurannya lumayan besar jika dibandingkan dengan tubuh kurus yang dimiliki Deby. Sampan dayung itu dengan lebar satu meter panjang empat meter. Sampan inilah yang saban hari sebagai alat transportasi warga Rumbai untuk lebih cepat sampai ke pusat kota, tepatnya di pelabuhan Sungai Duku, ketimbang harus melintasi jembatan Layton yang memakan waktu lumayan lama.

Teriknya sinar matahari dan gelombang di Sungai Siak ini tidak membuat yang duduk dibangku kelas 2 SMP ini berhenti untuk mencari rezeki untuk membantu kebutuhan ekonomi keluarganya.

"Saya pulang sekolah sekira pukul 12.00 WIB. Setelah itu saya langsung nambang (mancari penumpang)," kata Deby dalam perbincangan dengan okezone, beberapa waktu lalu.

Walau sebenarnnya dia ingin banyak bermain dengan teman seusianya, namun kebutuhan ekonomi yang memaksanya harus membantu orangtuanya. Bila sedikit tersisa, uang hasil mengayuh sampan ini buat jajan di sekolahnya.

Namun demikian, selama menambang Deby mengaku bisa membagi waktu antar sekolah maupun mencari uang. Waktu luang pada malam hari lah yang bisa membuatnya berbagi antar bermain dan belajar.

"Prestasi sekolah saya juga baik bang, saya tidak begitu terganggu dengan pekerjaan saya sekarang," kisah Deby yang orangtuanya bekerja di Pelabuhan Sungai Duku.
(hri)

Komentar (7) :
  • yohana
    Rabu, 08 September 2010 20:37 wib
    mang kek gitu orang pgen hdup hrus berjuang dgan sluruh tenaga tuk mnghidupi tau mncukupi kbutuhan sharihari tetap semangat ya dek jgan prnah mnyerah key,,,,, Laporkan
  • andry
    Sabtu, 04 September 2010 11:52 wib
    anak sekecil itu berkelahi dgn waktu.. demi satu impian yg kerap ganngu tidurmu... Laporkan
  • udin
    Senin, 09 Agustus 2010 14:17 wib
    sungguh prihatin melihat hidup mereka. semoga Allah SWT melindungimu dan memberikan rezeki yg berlimpah. Laporkan