TIDAK hanya teror bom yang disebar kelompok teroris, cuci otak dari gerakan Negara Islam Indonesia yang menghantui masyarakat saat ini. Atau kemacetan dan banjir yang membuat pening benak penduduk Ibu Kota.
Aksi brutal dari sekelompok pemuda atau pelajar juga lekat dengan kehidupan Jakarta. Ya, kota terbesar dan terpadat di Indonesia ini boleh dikata identik dengan tawuran atau bentrokan massa. Dari mulut gang, jalan raya, pusat perbelanjaan, stadion, hingga pintu tol tak luput dari aksi kekerasan tersebut. Jangan heran jika gaya "bar-bar" ini menjadi sajian berita up to date nyaris setiap hari di televisi maupun koran-koran nasional.
Dalam tayangan televisi terlihat anak-anak dan remaja tanggung bertutup kepala, menenteng balok kayu, ikat pinggang, gir sampai senjata tajam, seperti golok, dan pedang. Umur mereka relatif muda, bahkan ada yang masih belia, tapi keberaniannya
melukai orang lain tak kalah garang dari orang dewasa.
Apakah pengaruh dari seringnya menonton tanyangan film menjadi menyulut remaja saat ini bertingkah galak. Entahlah. Namun faktanya bentrokan atau tawuran ada di depan mata. Sampai tadi malam pun, bentrokan massa masih terjadi di Jakarta. Kali ini pecah di dekat pusat perbelanjaan Kelapa Gading, tepatnya di La Piazza.
Dalam adu fisik yang menyertakan senjata tajam dan kabarnya ada senjata api, tiga orang dilaporkan terluka sehingga harus diboyong ke rumah sakit. Dari keterangan polisi, bentrokan berdarah ini melibatkan oknum TNI dan kelompok tukang tagih atau populer disebut debt collector yang belakangan ramai diperbincangan menyusul tewasnya nasabah Citibank, Irjen Octa.
Dari tingginya insiden kekerasan di Jakarta ini, kasus tawuran warga Johar Baru dan Kampung Rawa, paling menggelitik sekaligus memprihatinkan. Pasalnya, tawuran warga yang tetanggaan ini sudah berlangsung lama. Bahkan muncul kesan sudah menjadi tradisi. Polisi mencatat sejak awal Januari 2011, setidaknya 42 kali peristiwa tawuran berkecamuk di lokasi itu.
Warga di daerah ini sepertinya telah menggagendakan kapan untuk adu otot atau saling lempar batu. Sepertinya, tangan mereka pun gatal jika tidak menghajar atau membacok siapa saja yang dianggap musuh. Anehnya, tak jelas apa yang menjadi pemicu dari tawuran tersebut. Tapi dari kejadian-kejadian sebelumnya, tawuran meledak gara-gara hal sepele.
Dari mulai saling ejek, kalah main bola, urusan asmara atau cewek, hingga rebutan lahan parkir, dan sebagainya. Tak jarang juga dari anak-anak yang nongkrong di pinggir jalan tiba-tiba iseng melepar batu kepada pengendara motor yang melintas. Buntutnya, tawuran lagi. Memang banyak faktor yang menyebabkan tawuran di Johar Baru bisa dibilang "abadi", meski banyak meja mediasi digelar oleh tokoh masyarakat, tokoh agama setempat, aparat pemerintahan, hingga kepolisian.
Tapi hasilnya masih nihil. Istighosah tak mempan mendingingkan suasana. Sampai saat ini tawuran belum mampu diredam. Ibarat api dalam sekam yang sewaktu-waktu berubah menjadi kebakaran hebat. Ibarat bom waktu yang bisa meledak kapanpun. Kriminlog meneropong budaya tawuran tersebut lebih dikarenakan faktor kesenjangan ekonomi yang membuat warga tertekan dan mudah tersinggung.
Sederhananya, hidup dalam kondisi pemukiman padat, membuat remaja di Johar Baru terpaksa nongkrong di depan rumah atau di pinggir jalan nunggu giliran istirahat. Rumah yang sempit dengan jumlah penghuni yang banyak mengharuskan waktu tidur digilir. Hal ini memicu tensi emosional remaja yang labil semakin tinggi.
Nah, saat nongkrong inilah interaksi dengan yang lainnya mudah terjalin. Mobiliasi massa cepat bergerak. Terlebih dukungan sarana komunikasi seperti ponsel berbasis jejaring sosial, memudahkan satu sama lain berkomunikasi, saling mengirim informasi. Tak jarang, tawuran juga diketahui telah disiapkan dengan diawali aksi saling ledek di facebook, SMS, YM, hingga BBM.
Ada juga yang mensinyalir ada demdam lama dari warga yang belum ada titik temu penyelesaiannya. Sehingga, jika ada peristiwa baru, mereka terusik lagi karena problem massa lalu itu masih kuat membekas. Selain dugaan-dugaan itu, banyak warga yang menyakini jika bentrokan di Johar Baru memang sengaja dipelihara oleh pihak-pihak tertentu. Yakni, mereka yang berkepentingan dan diuntungkan dari situasi tegang ini.
Ya, kabarnya mereka para bandar narkoba sebagai biang keroknya. Dengan kekuataan uang dan tukang pukul, mereka terus memprovokasi warga agar langgeng berselisih. Apa betul atau tidak ada persaingan bisnis antarbandar narkoba di Johar Baru? Mungkin polisi dan BNN yang paling bewenang untuk menyelidikinya.
Apapun bentuknya, kekerasan tidak boleh dipelihara, karena hanya akan menjadi penyakit yang merusak tatanan kehidupan. Bentrokan dan tawuran harus dicegah dengan cara-cara yang tepat dan efektif, bukan pendekatan reaktif yang sesaat. Tapi harus dicari akar masalahnya, yang salah satunya ketimpangan ekonomi.
Upaya pendewasaan masyarakat, penegakan hukum, dan pemerataan dalam akses ekonomi secara perlahan akan melunturkan tindakan kekerasan. Kekerasan muncul salah satunya karena urusat perut.
(ram)