tragedi sukhoi

Bius Intai Pemudik

Catur Nugroho Saputra - Okezone
Kamis, 25 Agustus 2011 10:14 wib
Korban pembiusan di kantor polisi (Ist)
Korban pembiusan di kantor polisi (Ist)

MENYANTAP makanan kolak beraroma pandan saat berbuka puasa, memang sedap rasanya. Memang, makan makanan yang manis-manis ini dianjurkan agama untuk berbuka puasa guna mengembalikan stamina tubuh. Tapi bagaimana jadinya kalau kolak yang dimakan sudah dicampur obat bius?

Klepek, klepek, klepek, dijamin Anda bakal tak sadarkan diri. Seperti itulah kurang lebih yang dialami Ahmadi (25) dan Tarnoto (27), dua buruh bangunan di Pontianak, Kalimantan Barat menjadi korban pembiusan di Terminal Rawamangun.

Kedua pria asal Kerangkeng, Indramayu, Jawa Barat itu ditemukan terkulai di depan Kantor PLN, Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, Selasa, pekan lalu. Akibat pengaruh obat bius, keduanya harus terkapar dibangsal Rumah Sakit Koja.

Ahmadi bercerita dirinya naik pesawat dari Pontianak menuju Jakarta. Kemudian, dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta mereka naik Bus Damri tujuan Rawamangun. Sesampainya di Rawamangun, keduanya ditawari kolak oleh orang tak dikenal. ”Setelah minum kolak saya tidak ingat apa-apa lagi. Kami baru sadar setelah ada di rumah sakit,”tutur Ahmadi.

Akibat kejadian itu, Ahmadi kehilangan dompet yang berisi uang Rp3 juta, sementara Tarnoto kehilangan Rp4 juta. Uang tersebut hasil jerih payah mereka selama di Pontianak beberapa bulan. ”Uang itu untuk membeli oleh-oleh dan biaya Lebaran di kampung,” ungkapnya.

Kanit Reskrim Polsek Tanjung Priok AKP Sunardi membenarkan kasus pembiusan yang menimpa kedua korban tersebut. Sejauh ini pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku. Sunardi mengimbau kepada warga untuk mewaspadai aksi pembiusan dan penipuan yang semakin marak menjelang Lebaran. ”Jangan mudah percaya kepada orang yang baru dikenal,”imbaunya.

Sementara itu, dokter jaga IGD RSUD Koja, Hermansyah mengungkapkan, kedua korban terkena pengaruh obat penenang jenis benzodiazepin atau obat jenis psikotropika, yang biasa diberikan kepada penderita depresi untuk penenang. Saat ini pihaknya sudah melakukan penanganan secara intensif. ”Kami beri penawar,berupa vitamin B dan cairan infus,” ungkapnya.

Ahmadi dan Tarnodo hanya sebagian kecil dari korban kejahatan yang marak jelang musim mudik Lebaran. Ya,  aksi kriminalitas berupa pembiusan, hipnotis, serta pencopetan, dan lainnya, semakin marak terjadi. Biasanya pelaku mengincar korbannya di atas kendaraan umum, tetapi tidak menutup kemungkinan hal serupa juga dilakukan di tempat keramaian lainnya, seperti terminal, stasiun, pelabuhan, bandara, bahkan di rumah-rumah yang telah diintainya.

Rawan kejahatan di momen tahunan ini tak terlepas dari tinginya mobilisasi pemudik yang melakukan perjalanan pulang kampung dalam waktu bersamaan. Hal ini tentunya memberi peluang kepada mereka yang tidak bertanggung jawab untuk berbuat jahat dengan memanfaatkan situasi.

Merujuk data dari Kementerian Perhubungan, jumlah pemudik pada Lebaran 2011 diperkirakan akan mencapai 15,4 juta orang, meningkat 4,14 persen dari tahun lalu. Pada 2010 tercatat jumlah pemudik mencapai 14,8 juta orang, di mana para pemudik tersebut akan terlayani selama periode H-7 sampai dengan H+7 untuk moda angkutan jalan, penyeberangan antarpulau dan sungai, kereta api, serta maskapai udara. Adapun moda transportasi laut berlangsung selama 15 hari.

Sementara itu untuk mengamankan arus mudik, Polri menggelar Operasi Ketupat Jaya 2011 dengan menurunkan 18.446 personel ditambah dengan bantuan dari petugas Satpol PP, Damkar, TNI, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, dan Polsuska yang mencapai 3.000 personel. Sebanyak 128 titik pos pengamanan (pospam) dan pos pelayanan (posyan) juga disiapkan untuk mempersiapkan para pemudik, sopir angkutan, hingga kendaraan mudik agar aman dalam perjalanan.

Meski ada pengamanan ketat dari Polri, tetap saja aksi kejahatan bisa menimpa siapapun, kapanpun, dan dimanapun berada jika tidak berhati-hati dan kurang waspada. Jangan sampai tujuan mudik untuk bersua dengan keluarga tercinta dan sanak saudara yang lama ditinggal bukannya penuh senyum-tawa kebahagiaan, melainkan membawa cerita pilu karena menjadi korban kriminalitas.

Ingat, kejahatan bukan karena sudah niat dari si pelaku tapi karena ada kesempatan. Itulah, pesan yang selalalu diingatkan oleh Bang Napi. Karena itu, waspadalah dan  selalu berhati-hati selama di perjalanan.
(ram)

Komentar (0) :