MEMANFAATKAN teknologi canggih dari sebuah alat mesin rekam, empat penari bergiliran saling mengisi suara yang bernada nyanyi. Rekorder yang ditempatkan di sisi kanan panggung itupun berbunyi, “Uuu…eoaeo…chicik…chicik…plagh…plagh…” Merebakkan repetisi dari asal suara yang terisi ke dalamnya. Alat itu lalu ditinggalkan keempat penari yang telah mengisi suara mereka.
Satu demi satu secara berurutan, mereka memasuki panggung. Mengolah tubuh, menebarkan energi gerak yang seirama nada rekam. Pentas pun segera tergelar. Tercium nuansa purbakala ketika suara hanya bunyi yang tidak bermakna. Gerak tari menyatu berpadu seperti lekat dalam permainan gelombang nada.
Koreografi yang seolah-olah terbangun secara acak-acakan tetap menegaskan pola konfigurasi yang bergerak konstan antara olah tubuh dan gelombang suara dari Mira Bai Cook, Robin Cantrell, Bafana Solomon Matea, dan Carmen Nicole Smith berkolaborasi mengayunkan langkah kaki yang lincah namun berkuda-kuda kokoh, sedangkan tangan mereka terlihat tidak gemulai. Prinsip 3-W (wiraga-wirama-wirasa) yang dikenal sebagai patron tarian tradisional di negeri seperti tumbang di atas panggung.
Kalau boleh dinamakan sendiri, inilah tari gelombang batere. Kendati berbadan kokoh berisi otot bertonjolan layaknya binaragawan, keempat penari di atas pentas berhasil menampilkan diri seperti layang-layang tertiup angin di angkasa.
Pergelaran Battery Dance Company bertajuk IndonesiaTour 2011 dihelat di Gedung MULO, Jalan Jenderal Sudirman 23, Makassar, Minggu (16/10/2011). “Dancing to connect” jadi tema perhelatannya.
Budaya tari Amerika Serikat kontemporer tidak dibangun dari gerakan rutin sejak kecil. Karena sejak anak-anak mereka terbiasa duduk diam saja, baik di rumah atau di sekolah. Tidak banyak orang asal Negeri Paman Sam mengenal kebiasaan bergerak ke sana ke mari, misalnya untuk bermain liar di alam bebas.
Muhibah mendatangi ke sebuah kota kecil seperti Makassar bagi Jonathan Hollander seperti mencari pengalaman di mana hubungan antarmanusia dapat terjalin lebih dekat. Persentuhan yang erat dan akrab itu tidak diterimanya dari New York yang egois dan cenderung memisahkan orang dari kedekatan satu sama lain.
Hollander direktur eksekutif dan artistik dari Battery Dance Company. Kartu namanya beralamat di 380 Broadway, 5th Floor, New York, NY 10013. Dia mengaku merasa bahagia mengenal Negeri Anging Mamiri di ujung selatan Pulau Sulawesi.
“Budaya tari di sini begitu elegan karena banyak memakai tangan yang digerakkan secara gemulai,” ungkap Jonathan.
Penata cahaya Barry Steele menyudahi keutuhan pentas akhir pekan lalu dengan penuh warna. “Kami tersanjung dengan sambutan penonton yang meriah,” ucapnya.
Bukan cuma berpentas sendiri, Battery Dance Company bekerja sama dengan 50 penari asal berbagai Sekolah Menengah Atas di Makassar menggarap tari kolaborasi dari hasil belajar bersama. Metode yang diciptakan Jonathan Hollander itu telah dicoba di 21 negara. Dari Makassar, Hollander cs melanjutkan muhibah ke empat negara di Afrika.
(kem)