Front Pembela Islam (FPI) menyayangkan tuntutan pembubaran oleh sebagian masyarakat. Mereka justru menilai pemerintah sebagai biang keladi dan harus bertanggungjawab atas meletusnya tragedi Monas 1 Juni lalu.
Kekerasan yang dilakukan Front Pembela Islam (FPI) pada 1 Juni lalu, juga direspon oleh masyarakat Bali. Aliansi Masyarakat Bali, menyerukan kecaman terhadap bentuk premanisme yang mengatasnamakan agama.
Ratusan warga Nahdlatul Ulama (NU) Bogor, Jawa Barat, Rabu (4/6/2008), melakukan unjuk rasa meminta FPI segera dibubarkan. Massa NU juga melakukan penyisiran ke rumah-rumah anggota FPI.
Gerakan Pemuda (GP) Ansor DIY melihat bahwa kasus penyerangan Laskar Pembela Islam terhadap peserta aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) 1 Juni lalu di Monas merupakan betuk penganiayaan dan pengkhianatan terhadap Pancasila.
Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Mojokerto kesulitan untuk melakukan sweeping terhadap anggota FPI. Pasalnya, sebelum aksi sweeping ini dilancarkan, anggota FPI terlebih dulu mencopoti atribut organisasinya.
Sejumlah mahasiswa dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati, yang mengatasnamakan Aliansi Kemahasiswaan Untuk Toleransi dan Kebebasan Beragama, menggelar demonstrasi dengan menggelar spanduk putih tandatangan menuntut pembubaran Front Pembela Islam (FPI).
Ketua Umum Dewan Tanfidz Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi Parung, Ali Masykur Musa meninta Gerakan Pemuda Anshor dan Garda Bangsa untuk tetap waspada meski anggota Front Pembela Islam (FPI) ditangkap oleh pihak kepolisian.
Penyerangan oleh kelompok massa beratribut Front Pembela Islam (FPI) kepada kelompok massa Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) menuai reaksi dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Mojokerto.