KARAWANGÂ -Sebanyak 18 orang siswi SMPN 4 Rengasdengklok tertipu oleh seseorang bernama Edi Sudrajat yang mengaku sebagai direksi Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Dalam aksinya, Edi Sudrajat berhasil membawa kabur 17 unit hand phone dan satu unit jam tangan milik para siswi-siswi tersebut.
Kepala Kepolisian (Kapolsek) Rengasdengklok, AKP Suroso menyatakan, sekitar pukul 10.00 WIB Kamis (6/12/2007) pelaku mendatangi SMPN 4 Rengasdengklok untuk memberitahukan bahwa sekolah tersebut terpilih mengisi acara menjelang Tahun Baru 2008 yang akan disiarkan secara langsung oleh TPI.
"Pelaku lalu menawarkan beberapa siswi SMPN 4 Rengasdengklok menjadi dancer (penari) di acara TPI malam Tahun Baru 2008 mendatang," ujar Suroso di kantornya, tadi sore.
Dia menjelaskan, melalui salah seorang guru bernama Yayat Rukhimat yang ditemui pelaku di sekolah tersebut menyampaikan penawaran dari pelaku kepada siswi yang berminat menjadi dancer dan meminta pihak sekolah untuk mengumpulkan biodata siswi yang bersedia untuk mengisi acara televisi tersebut.
Setelah mengantongi biodata itu, sambungnya, pelaku mengumpulkan para korban disalah satu ruang belajar di sekolah tersebut untuk dilakukan seleksi. "Pada kesempatan itu, pelaku memberikan pengarahan serta meminta kepada para korban bahwa yang boleh mengikuti seleksi harus yang memiliki hand phone," ujarnya.
Pada tahap awal, kata Suroso, sedikitnya 26 orang siswa diikutsertakan. Namun, pada tahap seleksi, hanya 24 orang yang lolos untuk mengikuti test selanjutnya yakni, psiko test dan test jasmani. Selanjutnya, sepulang sekolah pada Kamis (6/12) sekitar pukul 15.30 WIB pelaku meminta agar para korban berkumpul di halaman Masjid Nurul Amal yang tidak jauh dari sekolah tersebut untuk dilakukan test jasmani.
Setelah itu pelaku meminta para korban untuk senam pemanasan dan selanjutnya olah raga lari. Namun, sebelumnya pelaku meminta para korban untuk terlebih dahulu mengaktifkan Stopwath (waktu) pada HP masing-masing. Selanjutnya, pelaku menyuruh para korban untuk mengumpulkan HP-nya dan dititipkan kepada pelaku.
Setelah itu, pelaku menyuruh para korban untuk berlari. "Nah, ketika para korban sedang berlari cukup jauh dari Masjid Nurul Amal, pelaku lalu kabur dengan membawa HP milik para korban dengan menggunakan ojeg motor," jelasnya.
Setelah mengetahui pelaku tidak ada ditempat, para korban akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah. Selanjutnya, pihak sekolah bersama para korban melaporkan aksi penipuan tersebut ke Mapolsek Rengasdengklok. Beradasarkan laporan No LP/1032/XII/2007 Sektor Rengasdengklok tanggal 6 Desember 2007, aparat Polsek Rengasdengklok masih menyelidiki kasus penipuan tersebut.
Wakil Kepala Sekolah SMPN 4 Rengasdengklok Engkus Sutisna, saat dikonfirmasi di kantornya membenarkan kejadian tersebut. Menurutnya, dari 24 siswi yang ikut dalam tahap seleksi hanya 17 orang diantaranya yang bersedia memberikan HP-nya dan satu orang lagi menyerahkan jam tangan miliknya.