3 Balita Tewas Karena Gizi Buruk

Solichan Arif, Jurnalis
Kamis 20 Desember 2007 17:36 WIB
Share :

TULUNGAGUNG-Kasus gizi buruk pada balita masih mengintai masyarakat Tulungagung. Dalam setahun (Januari-Desember)  2007 ini tercatat sebanyak 27 balita Tulungagung menderita kekurangan gizi. Bahkan dari jumlah itu  tiga balita diantaranya menemui ajal.

Kenyataan ini diakui Kasi Gizi Dinas Kesehatan Kab Tulungagung Moch Arfan. Arfan  menyebutkan jumlah penderita gizi buruk  tahun ini lebih tinggi dibanding tahun 2006 lalu. Yakni  sebanyak 13 orang balita dengan dua balita diantaranya meninggal dunia.

"Memang benar masih ada kasus gizi buruk di Tulungagung. Dan dari kasus itu memnag ada yang sampai terjadi kematian," ujarnya, Kamis (20/12/2007).

Namun kendati diakui gizi buruk, Arfan menjelaskan, penyebab kematian balita  tidak semata karena rendahnya kadar gizi dalam tubuhnya. Namun ada penyakit lain yang menjadi penyerta hingga mengakibatkan  mempercepat proses kematian. Penyebab penyerta ini diantaranya penyakit sesak nafas dan radang pada paru. 

"Memang benar bayi ini kekurangan gizi. Namun tidak semata gizi buruk yang membuatnya meninggal. Dari pemeriksaan ada pnemoni juga dan radang paru-paru," ujarnya.

Seperti diketahui kasus kematian balita gizi buruk di Tulungagung ini terjadi sekitar sebulan lalu. Kendati mengakui,  Arfan masih enggan menjelaskan secara gamblang termasuk menyebutkan tempat tinggal orang tua korban. Ia hanya mengatakan kasus balita gizi buruk ini terjadi merata di Tulungagung. Diantaranya di Kec Kauman, Kec Sumbergempol, Kec Ngantru, Kec Rejotangan dan Kec Sendang.  Indikatornya dengan melihat usia bayi berbanding dengan berat badan yang dimiliki. 

Penyebab terjadinya gizi buruk ini karena terjadinya kesalahan  asupan gizi yang diberikan orang tuan kepada balita. Kemudian adanya penyakit infeksi atau bawaan sejak janin masih dalam  kandungan. Misalnya semacam penyakit hidrocepalus atau pembesaran pada kepala balita.  Bayi yang  menderita penyakit ini biasanya  memiliki kandungan gizi dalam tubuh dibawah normal. Bila dibiarkan,   akan terjadi perlambatan pertumbuhan tubuh  dan kecerdasan.

"Dan semua itu juga disebabkan rendahnya pengetahuan orang tua. Selain itu juga pengaruh keadaan ekonomi yang lemah," paparnya.

Untuk mengatasi itu, pihaknya memberikan bantuan makanan padat berkalori dan susu entrasol selama 90 hari . Zat  bervitamin itu untuk memperbaiki kadar gizi yang berada dalam tubuh si bayi. Arfan menambahkan,  meski masih terdapat kasus balita gizi buruk hingga mengakibatkan kematian, Tulungagung masih termasuk daerah dengan jumlah kasus gizi buruk yang rendah dibanding daerah tingkat II lain di Jawa Timur.

Hal itu dengan melihat angka kelahiran pada tahun 2007 ini  sebanyak 74 965 balita (terhitung Januari-Desember). Sedangkan pada tahun 2006 sebanyak 75. 487  balita/tahun. "Meski begitu kasus balita dengan gizi buruk di Tulungagung  masih relatif rendah dibandingkan daerah tingkat II di Jawa Timur lainya," paparnya. 

Wakil Ketua DPRD Tulungagung M Kirom menanggapi kasus gizi buruk hingga mengakibatkan kematian pada balita dengan tegas mengatakan   pemerintah harus mengevaluasi ulang kebijakannya yang menyangkut pemberian gizi pada balita . Menurutnya dengan masih adanya kasus gizi buruk, bahkan hingga mengakibatkan balita meninggal dunia dapat diterjemahkan  ada kebijakan yang salah.

"Ini harus dilakukan evaluasi terhadap kebijakan yang sudah dikeluarkan. Tidak  seharusnya kasus seperti ini terjadi mengingat bidang kesehatan  selalu menjadi prioritas pemerintah," ujarnya.

Lebih lanjut Kirom mengatakan pihaknya mendesak dinas terkait untuk segera mengambil langkah serius. Jangan sampai apa yang disampaikan dinas hanya sekedar lip service saja.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya