Sebuah film bisa mengubah perilaku seseorang. Ini nyata, banyak orang berubah setelah terilhami oleh sebuah film atau cerita. Entah perubahan perilaku atau hanya perubahan cara pandang terhadap suatu hal yang selama ini sudah tertanam di bawah alam sadar.
Dan saat ini dua film menarik tengah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia. Kedua film ini bersinggungan dengan umat muslim, namun bila dilihat dari sudut pandang, kedua film ini bertolak belakang. Film yang bertema menyebarkan kekuatan ajaran agama, sementara film lainnya menyebarkan kebencian terhadap agama.
Film pertama yang tengah mendapat puja-puji masyarakat Indonesia, bahkan menurut rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Jumat malam ini akan menontonnya, berjudul Ayat-ayat Cinta. Film yang diangkat dari novel karangan Habiburrahman El Shirasy ini langsung masuk box office film yang beredar di bioskop 21 Indonesia. Penonton membludak, bahkan hampir seluruh pejabat tinggi di tanah air berbondong-bondong menontotn film bertema cinta, kasih sayang hingga kuatnya sebuah ajaran dianut umat Islam.
Belum selesai umat muslim Indonesia dibius film AAC, tiba-tiba umat muslim dunia diguncang oleh sebuah film pendek berjudul Fitna, yang berisi penentangan terhadap Alquran. Jelas film kedua yang Fitna tidak beredar di bioskop 21Â Indonesia. Namun, film ini sudah beredar di internet. Film garapan politikus ekstrim kanan Belanda Geert Wilders ini benar-benar bertolak belakang dengan film AAC yang beredar di Indonesia.
Meski hanya sebuah film, bahkan film Fitna hanya berdurasi 15 menit, tetap saja memunculkan ekses. Film Fitna yang sudah ditolak ditayangkan di televisi dan layar lebar, namun akan diputar di situs internet.
Pemerintah Belanda sendiri mengkhawatirkan bahwa film itu akan menimbulkan kekerasan di sejumlah negara muslim. Seperti yang terjadi dua tahun lalu, di mana para masyarakat muslim di sejumlah negara bentrok fisik dengan polisi karena protesnya terhadap pemuatan kartun Nabi Muhammad oleh surat kabar di Denmark.
Filmnya memang tidak akan ditayangkan di televisi atau bioskop, karena perusahaan broadcast  menolak untuk menayangkan film tersebut. Meski mendapat tentangan dari berbagai pihak, Wilders tetap akan menyebarkan film ini, dan akan memutarnya melalui internet. Saat ini, sejumlah situs sudah memuat film yang membuat gempar umat muslim ini.
Jelas, dua film ini menarik perhatian. Sangat kontras, karena kemunculannya hampir berbarengan. Film Fitna memang tidak beredar secara umum di Indonesia. Namun, melaui jaringan internet film ini bisa dilihat umat muslim seluruh dunia. Tinggal bagaimana masyarakat Indonesia menanggapi, tentu saja dengan kepala dingin, bukan mengedepankan amarah.