Tingkat kesejahteraan rakyat kini menjadi musuh yang harus dihadapi Indonesia. Masih banyak rakyat yang hidupnya terjerat kemiskinan dan pengangguran. Sebuah perjuangan di era baru. Indonesia sudah merdeka?
Boleh jadi makna kemerdekaan bisa dirasakan bagi sebagian orang. Mereka bisa merdeka dalam berpikir dan berkarya. Tapi, sebagian kalangan belum merasakan sepenuhnya arti kemerdekaan. Dari penjajahan fisik, Indonesia memang sudah merdeka. Tetapi, secara sosial, ekonomi dan politik, hal itu masih diragukan. Faktanya, angka rakyat miskin Indonesia masih tinggi.
Begitu juga angka pengangguran, korupsi, utang luar negeri yang menumpuk. Bahkan, ada juga anggapan bahwa setiap anak Indonesia yang baru lahir dari rahim ibunya langsung dibebani utang negara. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran pada Februari 2008 tercatat 9,43 juta orang. Angka ini mengalami penurunan 584.000 orang dibanding Agustus 2007.
Dibanding Februari 2007 (year on year/ yoy), angka pengangguran Februari 2008 mengalami penurunan sebesar 1,12 juta orang. Memang, jika dilihat tren pengangguran di Indonesia, dari tahun ke tahun selalu mengalami penurunan. Berdasarkan data resmi BPS, jumlah pengangguran pada Agustus 2007 tercatat sebanyak 10,01 juta orang atau turun 536,78 ribu orang dari jumlah Februari 2007.
Bahkan, dibandingkan Agustus 2006, angka pengangguran 2007 mengalami penurunan 920,86 ribu orang. "Walau angka kemiskinan maupun pengangguran terus menurun sejak tiga tahun terakhir, itu masih jauh dari harapan semua pihak," ungkap Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Paskah Suzeta. Bahkan, dengan adanya gejolak di bidang ekonomi yang terjadi akhir-akhir ini, angka pengangguran diprediksikan masih bisa mengalami kenaikan.
Menurut peneliti Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI Latif Adam, angka pengangguran di Indonesia diperkirakan akan naik sebesar 9 persen pada 2009 dibanding tahun lalu, sekira 8,5 persen. Menurut dia, kenaikan jumlah pengangguran ini lebih disebabkan menurunnya penyerapan tenaga kerja dalam bidang industri, yang mencapai 36,6 persen pada kuartal kedua tahun ini.
Sebab, sektor industri dipaksa harus melakukan penghematan besar-besaran, akibat kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat menyentuh angka USD150 per barel. Banyak bidang yang mengalami penurunan, termasuk bidang ekonomi yang menunjukkan semakin melemahnya performa sector tradable (pertanian dan industri). Selain itu, penurunan kemajuan pertanian dan peternakan yang turun masing-masing 5 persen dan 3 persen, juga sektor pertambangan dan industri pengolahan.
Menurut Latif, masih terdapat 12-14 persen angka kemiskinan yang menanti pada 2009, sementara penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran sepertinya hampir tidak ada. Selain pengangguran, tingginya angka kemiskinan juga masih menjadi kekhawatiran yang harus dihadapi. Meskipun pada 2008 dibayangi krisis keuangan global, menurut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan tiap tahunnya.
Presiden SBY menyebutkan, angka kemiskinan pada 2006 mencapai 17,7 persen, sedangkan pada 2008 angka tersebut turun menjadi 15,4 persen. "Angka kemiskinan 2008 ini adalah angka kemiskinan terendah," ungkapnya. Penurunan jumlah orang miskin, menurutnya, lebih karena adanya upaya pemerintah dalam melaksanakan program penanggulangan kemiskinan.
Program penanggulangan kemiskinan tersebut, antara lain penyediaan beras murah untuk rakyat miskin, Program Keluarga Harapan, Jaminan Kesehatan Masyarakat, Bantuan Operasional Sekolah, Kredit Usaha Rakyat (KUR), serta Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Jelang 2009, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka kemiskinan.
Meski begitu, angka kemiskinan diprediksikan akan mengalami peningkatan tahun mendatang. Pasalnya, hingga saat ini kondisi perekonomian global belum menunjukkan tandatanda membaik. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memproyeksikan jumlah penduduk miskin pada 2009 mencapai 40 juta orang (16,82 persen). Jumlah ini meningkat sekitar 5 juta dibanding hasil survei BPS pada Maret 2008, yang mencatat penduduk miskin sebanyak 34,96 juta orang (15,42 persen).
Hingga 2009, ekonomi menjadi salah satu tantangan terberat yang harus dihadapi bangsa Indonesia. Pasalnya, bayang-bayang krisis ekonomi serta ketidakpastian politik 2009 bisa menyebabkan pelemahan ekonomi. Maklum, pada 2009, bangsa Indonesia akan melaksanakan pesta demokrasi, yakni pelaksanaan pemilu. Hajatan politik besar semacam itu membuat para investor cenderung menunggu hingga terbentuknya pemerintahan baru.
Selain di sektor ekonomi, masalah pelestarian lingkungan serta penegakan hak asasi manusia (HAM) juga diperkirakan masih menjadi isu hangat yang bisa menjadi sorotan di Indonesia. Semakin meningkatnya ancaman efek global warming, Indonesia yang diletakkan sebagai salah satu paru-paru dunia dituntut untuk mampu mempertahankan hutannya.
Data Departemen Kehutanan menyebutkan, angka kerusakan hutan hingga Desember 2007 mencapai 1,08 juta hektare. Jika pemerintah tidak mampu mengatasi illegal logging yang berakibat pada rusaknya hutan di Indonesia, bisa dipastikan akan menimbulkan kritik dari negara-negara di dunia. Kini,setelah 63 tahun merdeka, perjuangan Indonesia semakin berat.
Musuh yang dihadapi bangsa ini pun berubah. Bukan lagi secara fisik invasi negara asing, melainkan kesejahteraan rakyat, kemandirian bangsa, serta kedaulatan sebagai bangsa yang merdeka yang menjadi taruhannya. Tolok ukur besarnya sebuah bangsa sejatinya bukan terletak pada seberapa banyak daftar para pahlawan atau seberapa sering kita mengadakan upacara untuk memperingatinya.
Akan tetapi, lebih kepada seberapa besar usaha yang dilakukan dalam mewujudkan sebuah negeri benar-benar merdeka dari penjajahan dengan segala bentuknya.
(M Budi Santosa)