JAKARTA - Pegamat politik dari Reform Institute Yudi Latief melihat ada sebuah dinamika politik dalam internal Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pandangan tersebut dilontarkannya mencermati adanya faksi-faksi di tubuh PKS yang berseberangan dalam menentukan strategi menghadapi Pemilu 2009.
"Ya (perbedaan pendapat) itu menunjukkan ada dinamika dalam PKS. Artinya PKS tidak lagi ditentukan hanya dari satu sudut pandang elit tertentu, tetapi ada faksi yang lain di dalammya. Itu wajar saja," jelasnya saat dihubungi okezone, Kamis (18/12/2008).
Lanjut Yudi, ke depan PKS tidak mudah lagi mengelola internal partainya, sehingga memerlukan manajemen baru yang tidak tersentralisasi. Manajemen baru itu dibuat berdasarkan mekanisme institusi yang baik. "Tidak lagi tersentralisasi atau hanya berdasarkan ketundukan pada orang tertentu saja."
Yudi menambahan untuk memperluas pengaruh, PKS mesti melakukan rekrutmen kader-kader baru. "PKS tidak boleh sekadar mengandalkan kader inti. Selama itu masih terjadi akan sulit memperluas jaringan," katanya.
Menurut dia, kehadiran kader baru tersebut nantinya akan memperluas pemikiran-pemikiran di internal partai. "Hal itu otomatis akan menghadirkan kompetisi pandangan, dengan itu tentu manajemen PKS akan mengalami perubahan," imbuh Yudi.
Â
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Saiful Mujani melihat adanya perbedaan strategi pemenangan pemilu yang dilakukan oleh Tifatul Sembiring dan Anis Matta. "Tifatul memandang masyarakat Indonesia akan tertarik jika PKS konsisten, sedangkan Anis Matta lebih melihat pada peluang untuk bekerja sama dengan siapa saja," ujarnya.
(Dadan Muhammad Ramdan)