JAKARTA - Rencana Departemen Perhubungan untuk menurunkan tarif angkutan umum menyusul penurunan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah terus mendapat penolakan.
Kali ini penolakan datang dari sopir angkutan kota di Terminal Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Mereka menolak dengan alasan jumlah penumpang yang semakin menurun.
"Karena banyak yang beralih menggunakan sepeda motor," kata Eman (31) sopir angkutan umum 106 jurusan Lebak Bulus-Parung saat ditemui okezone, Jumat (19/12/2008).
Dia mengaku, walaupun belum ada edaran berapa penurunan tarif angkutan, namun sebagian penumpang sudah memberikan uang di bawah tarif berlaku.
"Saat harga bensin Rp6.000 per liter tarif penumpang jurusan Lebak Bulus-Parung Rp6.000. Tetapi ketika harga bensin turun menjadi Rp5.000 per liter, para penumpang banyak yang sudah membayar Rp5.000. Namun itu masih tergantung pada penumpangnya," tandasnya.
Dia mengaku, keputusan penumpang untuk membayar di bawah tarif tidak bisa ditolak sopir.
"Kita tidak bisa memaksa, karena para penumpang sudah mengetahui jika harga bensin sudah turun. Sehingga dengan sendirinya, mereka mengurangi tarif dengan sendirinya," tuturnya.
Hal senada diungkapkan Slamet (40). Sopir rute jurusan Lebak Bulus-Parung mengaku penurunan jumlah penumpang sangat memberatkan dirinya.
"Kadang-kadang dari terminal saja sudah lama ngetem, tetapi isi mobil hanya delapan orang. Itu juga sewanya deket-deket. Paling sampai Parung cuma satu, karena orang kerja jadi kebanyakan pakai motor jadi susah," keluhnya.
Oleh karenannya, Slamet mengaku penurunan tarif angkutan akan semakin memberatkan sopir angkot.
"Tetapi kalau pemerintah tetap memberlakukan kebijakan penurunan tarif angkutan umum, maka kita hanya bisa pasrah," ungkapnya.
(Kemas Irawan Nurrachman)