Petualangan di Tepi Danau 'Kampung Tenggelam'

Rival Fahmi, Jurnalis
Rabu 22 April 2009 09:47 WIB
Pemandangan dari salah satu sisi danau Tolire (Foto: Rival Fahmi)
Share :

TERNATE - Ternyata, danau Tolire Besar tidak hanya menyimpan misteri di bagian atasnya saja. Panorama indah danau yang terlihat saat berada di atas danau, belum apa-apa jika tidak menginjak kaki di tepi danau tersebut.

Untuk mencapai tepi danau yang konon berasal dari kampung yang tenggelam itu, dan menyentuh airnya bukan perkara mudah. Kemiringan tanah vertikal dengan yang diperkirakan hampir mencapai 90 derajat itu justru menjadi daya tarik tersendiri terutama bagi yang menyukai petualangan.

Butuh keahlian dan kelincahan untuk mencapai tepi danau. Pasalnya, selain hanya ada satu akses jalan ke sana, medannya cukup sulit. Padahal, untuk menikmati panorama danau, justru lebih menarik dari tepi air danau.

Melewati jalan dengan bergantungan pada akar-akar pepohonan yang mengggantung serta jalanan terjal yang licin harus dilewati dengan ekstra hati-hati. Sedikit saja lengah, sudah pasti akan menjadi "santapan empuk" deretan cadas yang terdapat di tepi danau di bawahnya.

Okezone sendiri mendapat kesempatan ikut ajakan Ali Samad, penjaga danau tersebut yang bermurah hati mau mengantar ke ke tepi danau bersama dengan dua rekan wartawan lainnya plus sejumlah kawan yang ikut dalam rombongan tersebut, menjelajahi bagian bawah Tolire.

Usai shalat zuhur, Ali pun mengajak kami untuk mulai melakukan perjalanan tersebut. Untuk mencapai akses jalan ke bawah, kami harus mengitari seperempat lingkaran danau sekitar kurang lebih 300 meter dari lokasi tempat umum.

Jalan yang ditempuh sekitar kurang lebih 5 menit melewati setapak berbelukar. "Di sini harus hati-hati karena banyak ularnya," kata Ali mengingatkan.

Tiba di titik masuk yakni sebuah pohon besar, Ali pun mulai memanjatkan doa-doa meminta keselamatan dan perlundingan Yang Kuasa sebelum menuruni jalan tersebut. Perjalanan pun dimulai dengan menuruni dengan bergantung di akar-akar pohon tersebut sekitar kurang lebih 15 meter.

Selepas dari akar-akar pohon, kami harus melewati jalan terjal berpasir yang licin. Ali pun mengikat seutas tali dengan panjang hampir 50 meter sebagai pengaman agar sedikit memudahkan kami menuruni jalanan tersebut sambil berpegangan di pohon-pohon kecil yang tumbuh.

Meski sudah berusia diatas 40 tahun, pria beristeri empat itu terlihat lincah menuruni jalanan itu. Sambil melompat ke sana-sini, Ali seakan paham betul tiap sisi tanah yang dipijakinya. Berbeda dengan kami yang harus tertatih-tatih turun penuh hati-hati dengan napas yang tersengal-sengal.

Sebelum tiba, masih tersisa kurang lebih, turunan sejauh 10 meter. Padahal, tali yang disiapkan Ali telah habis. Kamipun setengah merangkak untuk menuruninya. Licinnya jalanan memaksa kami harus lebih berhati-hati agar tidak tergelincir jatuh.

Meski hanya sekitar 75 meter saja, untuk mencapai tepi danau dibutuhkan waktu hampir setengah jam karena kondisi jalan yang berat dan amat berbahaya itu. Namun, saat menginjaki tepi danau, segala rasa lelah pun langsung sirna. Dengan napas yang masih satu dua, kami pun segera membasuh diri dengan air danau yang terasa dingin dan segar untuk membersihkan badan kami yang belepotan lumpur pasir saat menuruni jalan tadi.

Ali lalu mengajak kami untuk menyisiri sisi danau. Ternyata medan masih cukup berat karena jalan yang dilalu menyisiri batu-batu cadas besar yang harus dilompati untuk naik ke atasnya. Lalu, belum lagi batang-batang pohon tumbang dengan diameter diatas satu meter ikut menghalangi perjalanan kami.

Berjalan kurang lebih 100 meter, kami pun tiba di titik pertama. "Silahkan naik keatas. Di situ ada jere (kuburan keramat). Tapi salam dulu ya," tutur Ali.

Naik sekitar 10 meter, terdapat sebuah batu yang berdiri kokoh seperti sebuah nisan. Setelah sejenak mengamati, kamipun kembali meneruskan perjalanan menuju sebuah goa yang dijanjikan Ali.

Perjalanan kali ini sedikit lebih ringan. Namun, saat harus menuju ke titik gua, kami harus naik dan melewati jalanan tepi tebing batu yang lebarnya tak lebih dari setengah meter. Lagi-lagi kehati-hatian kembali harus kami jalani agar tidak terjatuh.Tibalah kami di gua tersebut.

Di sekeliling mulut gua yang hanya berdiameter sekitar 40 sentimeter itu, terpasang kain putih yang mulai usang dan berdebu yang menjadi pagar masuk.

Beberapa sesaji tampak dipasang di mulut gua berupa sebuah nampan kemenyan, nampan tembakau serta lilin dan beberapa piring tua ditempatkan.

Sambil mempersilakan kami duduk, Ali pun membakar kemenyan dan lilin untuk mulai berdoa sambil menghadap ke arah gua tersebut. Usai melakukan ritual tersebut kurang lebih lima menit, Ali lalu berbalik membelakangi gua dan mempersilakan Okezone untuk memulai wawancara.

Belum ditanya apa-apa, pria berambut gondrong itu seakan tahu isi otak kami. Sambil mengucap Tabea (izin) Ali lalu mulai bercerita tentang asal usul danau tersebut, termasuk menceritakan riwayat dirinya hingga mengabdikan diri sebagai penjaga danau tersebut (Selengkapnya baca: Pengabdian Hidup seorang Penjaga Danau).

Di bagian akhir, Ali lalu memberitahu adanya dua tempat keramat yang konon belum pernah didatangi orang selain dirinya. "Nanti kita ke Jiko Lamo dan Jiko Ici. Di sana akan saya tunjukan misteri lain dari danau ini. Boleh difoto, tapi hanya satu orang saja yang bisa ikut," ucapnya.

Setelah mengamati wajah satu persatu, Ali lantas menunjuk Okezone untuk mengawal dirinya menuju ke tempat yang dimaksud. "Hanya kamu yang layak ikut. Sisanya tunggu di tepi danau," ujar Ali tanpa menjelaskan alasan hanya mengajak satu orang saja.

Rupanya, tempat yang kami tengah duduki adalah bagian tengah dari tebing antara tepi danau dan tempat orang melempar di bagian atasnya. Setiap batu yang dilempari para wisatawan, justru jatuh tepat dibawah kami karena kami terlindungi lekukan tebing yang sedikit menjorok kedalam.

"Lihat sendiri. Batu-batu yang mereka lempar itu tak pernah bisa menyentuh air danau kan?" ujar Ali sambil tersenyum.

Sebelum turun dari tempat itu, Ali lalu lalu membekali satu per satu dari kami dengan sebuah batu berwarna merah tanah yang dicungkilnya dari tebing mulut gua itu. "Nanti saya tunjukan khasiatnya setelah kita naik keatas," janjinya.

Kami pun turun kembali ke tepi danau. Ali lantas mengeluarkan sebuah sampan yang ditambat di sela-sela pepohonan dan mengajak Okezone untuk menyisiri seluruh bagian danau dan mengunjungi dua tempat keramat yang dimaksudnya.

Sampan tua itu lalu membawa kami menyisiri seluruh lekuk tepi danau tersebut. Puas berkeliling, Ali lalu mengitari tengah danau sambil mengungkap satu keunikan danau yang belum banyak diketahui orang.

"Yang aneh dari danau ini yakni tak ada ikannya. Puluhan tahun saya menjaga danau ini, berkali-kali saya memancing bahkan hingga membuang jaring, tak satupun ikan yang saya bisa saya dapati," ungkapnya.

Kami pun menuju ke tempat keramat yang dimaksud Ali. Rupanya, di bagian timur danau tersebut, tepat diujung bawah gunung, terdapat dua teluk yang tek pernah terlihat orang dari atas danau karena tertutup pepohonan yang tumbuh.

Pemandangannya luar biasa. Tebing melingkar dengan dinding akar pepohonan menjadikan tempat tersebut terlihat eksotis. Di ujung dalam teluk itu, terdapat turunan terjal yang mirip tempat meluncur di area kolam renang.

Sambil mengucap salam, Ali lantas mempersilahkan Okezone untuk mengambil gambar. "Silahkan. Kamu orang pertama yang memotret tempat ini," ujar Ali.

Puas memotreti tempat itu, Ali lantas menunjuk Jiko Ici yang ukurannya lebih kecil. Sayangnya kami tak bias memasuki tempat tersebut karena terhalang batang pepohonan yang menjulur seakan menjadi pintu teluk kecil itu.

Ali lantas mengajak untuk menuju ke tempat sarang belibis bertelur. Di sana, terdapat puluhan rumput terapung yang dijadikan burung tersebut untuk meletakkan telur-telurnya. Di situ terdapat pula puluhan ekor angsa yang bercengkrama di atas batang-batang pohon yang menjulur ke air. Ratusan capung berwarna biru ikut terbang mengelilingi kawasan sisi utara danau itu.

"Pernah lihat capung biru?" Tanya Ali. Okezone hanya bisa menggeleng. "Cuma di sini tempatnya," ujarnya yakin. Ali pun mengajak untuk kembali ke tempat di mana rombongan tengah menunggu kami. Kami pun bergegas untuk naik ke atas karena hari sudah mulai senja mengingat beratnya kondisi medan yang harus kami lalu kembali di mana kami tak membawa peralatan penerang seperti senter.

(Fitra Iskandar)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya