SIDOARJO - Warga Siring Barat, Kecamatan Porong, menuntut relokasi permanen. Pasalnya, mereka tidak ingin tercerai berai setelah meninggalkan kawasan itu.
Relokasi permanen yang dimaksud warga, tak ubahnya seperti yang kini dilakukan oleh pengungsi lumpur asal Desa Renokenongo, dengan membangun rumah satu kawasan di Desa Kedungsolok, Kecamatan Porong. Warga Renokenongo tinggal di satu kawasan agar tidak terpencar. Skema seperti ini yang salah satunya diinginkan warga Siring Barat.
Mahmud Marzuki, salah satu perwakilan warga Siring Barat, Minggu (12/7/2009), mengatakan relokasi permanen salah satu alternatif penyelesaian ganti rugi. Warga dibuatkan rumah di satu kawasan dan aset warga tetap diperhitungkan.
Selain menyediakan lahan relokasi permanen bagi warga.. Pemerintah juga harus mempertimbangkan masa depan warga terkait mata pencaharian mereka bila nanti diungsikan keluar dari Siring. Selain itu, aset tanah dan rumah warga juga harus dijamin pemerintah dan harus diganti.
"Warga bisa menerima skema bantuan sosial. Namun, tidak cukup bila dikontrakkan rumah selama setahun, setelah itu bagaimana? Untuk itu, pemerintah menangani nasib kami," ujar Mahmud.
Pemerintah, lanjut dia, hendaknya memberi solusi tuntas terhadap kondisi di Siring dan dua desa lainnya, yaitu Jatirejo Barat dan Desa Mindi. Karena kawasan itu tidak layak huni akibat banyaknya semburan gas dan lumpur. Skema bantuan sosial dari pemerintah dirasa belum menjadi penyelesaian yang utuh.
Sejauh ini, pemerintah belum memberi penyelesaian menyeluruh untuk tiga kawasan itu. Padahal, sejak terjadinya semburan lumpur panas, kawasan Siring Barat banyak bermunculan semburan gas, semburan lumpur dan penurunan tanah.
Sedangkan BPLS (Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo) hanya menyediakan skema bantuan sosial bagi 2.174 warga di Siring Barat, Jatirejo Barat dan Mindi, berupa uang kontrak rumah Rp2,5 juta setahun per kepala keluarga (KK), uang evakuasi Rp500.000 per KK, dan uang jatah hidup Rp300.000 per bulan per jiwa selama enam bulan.
Kawasan Siring barat, dalam beberapa pekan terakhir bermuncul semburan. Setelah semburan lumpur muncul di rumah Oki Andriyanto di RT 3 RW 1 Siring Barat dan terbakar. Semburan lumpur kembali muncul pada Jumat 10 Juli di RT 2 RW 1 di rumah M. Lutfi yang hingga kini belum berhenti menyembur.
Dewan Pengarah Panitia Khusus (Pansus) Lumpur DPRD Sidoarjo Jalaluddin Alham, mengimbau warga untuk menerima skema bantuan sosial dan segera mengontrak rumah di lokasi yang lebih aman. Sedangkan untuk ganti rugi akan dibicarakan lebih lanjut.
Dalam beberapa kesempatan, Bupati Sidoarjo Win Hendrarso dan Kepala BPLS Sunarso, mengaku akan memperjuangkan nasib aset tanah dan rumah milik warga. Namun, selama belum ada jaminan mengenai aset itu, warga enggan untuk segera keluar dari wilayah tersebut.
Terkait kondisi semburan gas dan lumpur di Siring Barat, Kepala Divisi Gas pada BPLS Dodi Irmawan, mengaku pihaknya kesulitan untuk menghentikan semburan lumpur baru itu. BPLS hanya menyalurkan semburan gas dan lumpur melalui pipa-pipa pengaman.
"Kami hanya bisa menghimbau agar warga tidak menyalakan api dekat semburan gas. Karena kadar gas fluktuatif dan rawan terbakar," ujarnya.
(Hariyanto Kurniawan)