BANTUL - Pascagempa yang mengguncang Yogyakarta Mei 2006 lalu, perajin batik di Giriloyo, Yogyakarta, menunjukkan dedikasi tetap bertahan dari tekanan ekonomi. Mereka terus berkarya, melalui canting-cantingnya dengan menorehkan satu demi sati kain batik berbagai motif.
Belajar dari kegigihan dan ketekunan tersebut, aksi simpatik wartawan
Yogyakarta membatik ingin menggugah lagi perhatian semua pihak atas karya adiluhung batik, yang kini telah dicatat badan PBB UNESCO bersama 111 nominasi mata budaya dari 35 negara lainnya dalam Daftar Representatif 76 mata budaya.
Para wartawan belajar kepada ahlinya secara langsung, yaitu pada perempuan pembatik di Imogiri. Menggerakan jari jemari bukan lagi untuk sekadar menulis berita, mengetik di atas tuts keybord tapi menggerakan dengan memegang canting, mengikuti titik, garis, lengkung, dan menghasilkan desain motif sesuai kreasi.
Menghasilkan juga karya batik. Harapannya dengan terlibat langsung mengetahui proses membatik, cara pandang dan rasa memiliki bisa lebih bermakna.
Sebelum membatik, meraka menggambar desain terlebih dahulu dan memindahkan ke dalam kain.
Ada banyak motif klasik, yang hingga kini dikerjakan oleh pembatik di Giriloyo Imogiri. Perhatian banyak pihak baik pemerintah daerah, dewan kerajinan daerah, perusahaan swasta, perkumpulan pecinta batik, telah memajukan industri batik di kawasan ini.
Hampir di setiap rumah penduduk, perajin memajang karya-karya mereka untuk bisa dibeli. Termasuk untuk sekedar berwisata, belajar soal batik.
Judiman, Ketua Forum Wartawan Bantul menyebutkan cukup banyak motif batik dan industri kecil berkembang di Bantul. Giriloyo adalah satu sentra batik yang hingga kini eksis dan sudah menjadi daerah tujuan wisata baru di kawasan selatan Bantul.
"Batik saya usulkan juga bisa menjadi cendera mata bagi wisatawan yang datang ke Bantul. Mungkin bisa diciptakan menjadi ikon, souvenir khas Bantul," kata Judiman, Sabtu (3/10/2009).
Sementara itu Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bantul, Sri Surya Widati yang juga istri Bupati Bantul mengatakan pihaknya sangat mendukung acara yang digelar wartawan karena dapat menumbuhkan rasa kecintaan terhadap hasil karya asli dari masyarakat Kabupaten Bantul.
Namun demikian pihaknya berharap ada potensi lain di Bantul yaitu kain lurik yang juga karya asli dari masyarakat Bantul yang hingga saat ini kurang dikenal oleh masyarakat secara luas.
"Ada dua daerah yang mengembangkan kerajinan kain lurik yaitu kawasan Sedayu dan Krapyak, Sewon Bantul. Saya berharap kain tulis ini juga dikenalkan oleh media keseluruh masyarakat di Indonesia," ungkapnya.
(Dian AF)