SUKABUMI - Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih, Senin (16/11/2009) siang, akhirnya menerjunkan staf khusus dan peneliti dari Badan Penelitian dan pengembangan (Balitbang) Departemen Kesehatan (Depkes) ke Sukabumi untuk meluruskan kesimpangsiuran hasil uji laboratorium atas sampel darah 300 peternak.
Staf Khusus Depkes Bambang Sulistomo menjelaskan, perseteruan antara peternak Sukabumi dengan Menkes lebih disebabkan oleh kesalahpahaman.
"Setelah saya melakukan dialog bersama dengan peternak dan peneliti dari Balitbang Depkes, terdapat titik terang. Dalam waktu dekat saya akan mempertemukan mereka dengan Menkes agar masalahnya cepat rampung," ujar Bambang.
Senada dengan Bambang, peneliti Balitbang Depkes Vivi Setiawati menambahkan, kedatangannya ke Sukabumi ini memang bertujuan untuk mengklarifikasikan mengenai kesimpangsiuran itu. Vivi menegaskan, hasil uji laboratorium telah disampaikan kepada peternak melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi pada 31 Maret 2008, atau 15 bulan setelah pengambilan sampel darah.
"Tidak benar jika Dinkes Sukabumi belum menerima hasi l uji laboratorium. Kami sudah kirimkan pada 31 Maret 2008 lalu. Bahkan dua hari setelah rapat kerja DPR pun kami layangkan kembali, karena Dinkes yang memintanya," tegas Vivi.
Lebih jauh Vivi menerangkan, sampel darah para peternak ini juga tidak pernah dilarikan ke Hanoi maupun Atalanta. Melainkan ke Jepang untuk kebutuhan penelitian tingkat anti body terhadap virus flu burung.
"Saat ini sampel darahnya ada di Balitbang. Perlu diketahui pengambilan sampel darah ini bersifat sukarela dan telah melalui mekanisme perizinan melalui Departemen Dalam Negeri," ujarnya.
Sementara itu Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Seluruh Indonesia (Himpuli) Ade Zulkarnain mengatakan, pertemuan antara peternak dengan staf khusus dan peneliti dari Balitbang Depkes ini belum serta merta menyelesaikan permaslahan. Bahkan pertemuan ini semakin menambah kesimpangsiuran sampel darah.
"Sebelumnya isu menyebutkan, sampel darah peternak dilarikan ke Hanoi dan Atlanta, sekarang ada keterangan lainnya yang menyebutkan sampel darah dilarikan ke Jepang," kata Ade.
Ade juga mengaku kecewa terhadap Dinkes Kabupaten Sukabumi. Berdasarkan bukti dan keterangan yang ada, karena hasil uji lab sampel darah telah dilayangkan Depkes ke Dinkes pada 31 Maret 2008 silam.
(Dede Suryana)