JAKARTA - Koordinator Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi (Kompak) Fadjroel Rachman mengaku miris melihat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terkait kekhawatiran SBY soal aksi unjuk rasa memperingati Hari Antikorupsi Sedunia, 9 Desember mendatang.
"Aku sedih melihat Presiden mendapatkan informasi keliru," ujarnya saat dihubungi okezone, Selasa (8/12/2009).
Fadjroel menambahkan, Presiden telah melemparkan statemen yang membingungkan masyarakat dengan mengatakan aksi itu telah ditunggangi. Padahal menurutnya, pernyataan itu tidak berdasar.
"Presiden telah membawa pernyataan yang sesat, apalagi sumbernya dari sebuah dokumen yang tidak jelas dari mana asalnya. Tiba-tiba ada dokumen yang fiktif yang muncul sebelum aksi anti korupsi," tutur dia.
Sebelumnya Presiden menyatakan bahwa dia mensinyalir aksi massa besar-besaran memperingati Hari Antikorupsi Sedunia itu akan dimanfaatkan kelompok tertentu untuk tujuan politis.
"Saya mendapatkan informasi, pada 9 Desember akan ada gerakan sosial. Sebagian betul-betul ingin memperingati Hari Antikorupsi. Tapi ada informasi yang saya dapatkan, motifnya bukan itu. Tapi motif politik yang tidak berkaitan dengan korupsi," kata Presiden saat membuka rapat paripurna kabinet di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Jumat 4 Desember lalu.
Meski mengundang pro dan kontra namun pernyataan Presiden ini dibenarkan Ketua DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum. Menurutnya, pernyataan itu tidak asal bicara melainkan didasarkan dengan data.
"Itu kan pernyataan yang pasti berbasiskan data. itu pernyataan yang bersifat preventif agar tidak ada hal-hal yang destruktif," ujar Anas di sela rapimnas Partai Demokrat, Jakarta Convention Center, Senayan, Sabtu 5 Desember lalu.
(Lusi Catur Mahgriefie)