JAKARTA - Hingga pukul 06.40 WIB pagi tadi, sudah 33.531 jamaah haji dari 82 kloter yang tiba di Indonesia. Keterlambatan penerbangan, masih membayangi pemulangan jamaah haji tahun ini.
Direktur Pelayanan Ibadah Haji dan Umrah  (BPIH) Departemen Agama, Zakaria Anshar, mengatakan pada pekan pertama sudah terjadi banyak keterlambatan, baik yang menggunakan maskapai Saudi Airlines maupun Garuda Indonesia.
"Ini bukan hanya dialami penerbangan asal Indonesia, namun negara lain juga mengalami hal yang sama," katanya dalam konferensi pers di Restoran Al Jazeerah, Jalan Raden Saleh, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (8/12/2009).
Menururutnya, keterlambatan terjadi karena padatnya frekuensi penerbangan di Bandara Jeddah, Arab Saudi. "Frekuensi penerbangan tinggi. Banyak yang ingin cepat pulang. Akibatnya banyak antrean yang panjang. Ada penerbangan yang terlambat 10 sampai 20 jam," terangnya.
Dia menambahkan, pihaknya menggunakan charter flight khusus untuk menekan terjadinya keterlambatan akibat padatnya penerbangan. Setiap penerbangan wajib menyediakan backup flight jika ada kerusakan pada pesawat.
"Ada kewajiban-kewajiban yang dibebankan (kepada maskapai terhadap jamaah Indonesia). Misalnya kalau keterlambatan lebih dari 6 jam, harus disediakan akomodasi dan konsumsi. Penerbangan juga harus menginformasikan ke Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) di Jeddah sebelum pergi.
Di tempat yang sama, Sekretaris Dirjen BPIH, Abdul Ghafur Jawahir, mengatakan dampak dari keterlambatan membuat jamaah haji emosional. Bahkan ada yang sampai melakukan perusakan. Hal ini terjadi pada jamaah dari Kloter 10 asal Surabaya. Sempat terjadi pemukulan terhadap petugas dan perusakan meja klinik.
"Mereka marah karena makan terlambat. Mereka juga protes waktu kepulangan yang belum pasti," jelasnya.
(Dian AF)