TERNATE - Meski saat ini DPP partai Golkar telah memutuskan untuk tidak mengakomodir kadernya sendiri yang tak lain ketua DPD Kota Ternate, Muhammad Iqbal Ruray sebagai calon walikota Ternate, namun arus perlawanan dari “dalam” sepertinya bakal sulit dibendung.
Seluruh kader dan fungsionaris partai telah sepakat untuk tetap “melawan” sikap DPP yang mendukung pasangan Burhan Abdurachman-Arifin Djafar, dengan tetap menjatuhkan pilihannya pada Iqbal Ruray.
Mereka menganggap langkah DPP tersebut telah menzalimi kader partai sendiri. Iqbal yang selama dua periode menjadi ketua sukses memenangkan Golkar dalam dua Pemilu sebelumnya. Sejumlah enam fungsionaris Golkar yang duduk di DPRD termasuk Iqbal, dikabarkan siap melepas jabatan jika DPP tetap kukuh mempertahankan keputusannya itu.
“Cara-cara seperti ini harus dilawan. Sikap kami tetap untuk memenangkan pasangan Iqbal-Vaya meski DPP mengakomodir calon lain,” ujar Ketua harian Partai Golkar, Ariswan Wahab yang juga ketua Tim Pemenangan Alva.
Sikap DPP tersebut juga mendapat apresiasi dari Iqbal Ruray. Ketua DPRD Ternate dua periode itu juga mengganggap DPP Golkar inkonsisten dengan aturan serta mekanisme partai.
“Ini sebuah preseden buruk bagi partai Golkar. Dimana DPP dengan sengaja telah mengabaikan mekanisme penjaringan sesuai Juklak yang mereka keluarkan sendiri,” tutur Iqbal pada wartawan dalam jumpa pers di Posko Komando Teritorial Alva 2010 di kasawan ruko Jatiland Ternate, Rabu (17/2/2010) siang usai tiba dari Jakarta.
Padahal, DPP menurutnya, telah mengeluarkan keputusan awal pada pleno 10 Februari untuk mengusung dirinya sebagai calon dari partai Golkar. Namun keputusan itu berubah saat digelar pertemuan kedua yang dilakukan bukan di kantor DPP.
Iqbal sendiri enjoy menanggapi sikap DPP tersebut. Meski kecewa, dirinya tetap optimis bisa memenangkan Pilkada tanpa perahu Golkar. “Ini pemilihan untuk memilih figur, bukan memilih partai,” tegasnya.
Namun upaya-upaya strategis terus dilakukan demi penyelamatan Golkar di daerah semata. “Kami sudah berkoordinasi dengan ketua Dewan Pertimbangan DPP (Akbar Tandjung). Nantinya akan ada keputusan final setelah Ketua Umum Aburizal Bakrie kembali dari luar negeri pada 19 Februari nanti dan itu bisa berubah,” ujarnya optimistis.
Sambutan luar biasa yang ditunjukan warga Ternate terutama para pendukungnya atas kedatangan Muhammad Iqbal Ruray, diwarnai isak tangis. Bahkan, orang nomor satu di kota Ternate, Walikota Syamsir Andili, turut berlinang air mata menyambut kedatangan ketua DPRD Ternate itu sekembalinya dari Jakarta.
Saat iring-iringan ratusan kendaraan melintasi jalan Yos Sudarso tepat di depan kantor walikota, Syamsir yang juga ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Ternate pun keluar untuk menyetop iring-iringan sekedar untuk bertemu dengan calon suksesornya itu. Suasana haru langsung terasa ketika keduanya berpelukan sambil menitikan air mata.
Bukan hanya itu saja, sepanjang jalan warga yang menyaksikan dari pinggir jalan seakan tak ingin ketinggalan untuk berebut menyalami Iqbal dalam konvoi mengelilingi kota Ternate itu.
Sebelumnya, saat keluar dari pntu gerbang Bandara Baabullah, Iqbal yang ditemani wakilnya Vaya Amelia Armaiyn yang menggunakan mobil Jeep terbuka berwarna kuning, langsung dicegat para mahasiswa Universitas Khairun yang kampusnya berada tepat di depan gerbang bandara.
Bukannya unjuk rasa pencegatan lazimnya ala mahasiswa Unkhair, melainkan sekedar untuk menjabati tangan Iqbal-Vaya bahkan beberapa mahasiswi terlihat sibuk mengambil foto Iqbal dari jarak dekat dengan kamera handphonenya.
Sambutan itu dirasa luar bisa mengingat warga umumnya merasa iba dengan sosok pengusaha yang sukses itu sebelum terjun ke dunia politik. Sebelumnya, Iqbal sendiri “dihantam” dengan persoalan kasus korupsi berupa gratifikasi senilai Rp1,6 miliar yang akhirnya tidak bisa dibuktikan Kejaksaan lewat putusan vonis bebas Pengadilan Negeri Ternate.
Lalu, persoalan internal Golkar yang mana tidak mengakomodir Iqbal sebagai kandidat calon Walikota. Hal ini dianggap publik sebagai proses penzaliman pada kader terbaik oleh partainya sendiri sehingga membangkitkan simpati dari warga Ternate.
Betapa tidak, Golkar yang terpuruk saat konflik horizontal melanda Maluku Utara diawal 2000-an yang berimbas pada pemecatan sejumlah kader terbaiknya termasuk ketua DPD saat itu, Mudaffar Sjah yang juga Sultan Ternate, berhasil dibawanya kembali pada masa keemasan.
Sejak menjadi ketua pada 2003, Iqbal mampu mengantar Golkar menjadi partai dengan perolehan kursi terbesar Pemilu 2004 di tengah hujatan pada partai yang dianggap turut “bermain” memecah konflik saat itu.
Hal itu berlanjut pada Pemilu 2009 dimana hegemoni Demokrat yang saat itu didukung Sultan Ternate maupun Gubernur Malut, mampu dimenangkan Iqbal dengan mayoritas kursi di DPRD.
Hal inilah yang membuat para kader yang loyal terhadap partai bersumpah untuk tetap mendukung Iqbal meski konsekuensinya bakal dipecat dari partai karena tidak mengindahkan instruksi DPP yang merekomendasikan figur lain.
(Fitra Iskandar)