TUBAN - Aksi penolakan atas rencana perluasan tambang PT Semen Gresik (SG) di Tuban kembali dilakukan warga. Ratusan petani dari empat desa yang wilayahnya terkena perluasan lahan tambang turun jalan memblokade jalur Pantura Jalan Teuku Umar, Tuban. Mereka berjalan kaki menyusuri kota hingga mengakibatkan kemacetan.
Para pengunjuk rasa berasal dari Desa Tegalrejo, Kapu, Tuwiri Wetan dan Desa Tuwiri Kulon, Kecamatan Meraurak. Mereka tergabung dalam GEMMBEL (Gerakan Masyarakat Bancang, Becok, Bribin, Tegalpelem, dan Karangrejo Peduli Lingkungan). Aksi ini sudah kelima kalinya dilakukan para petani untuk menolak rencana perluasan lahan tambang PT SG seluas 448 hektare.
Aksi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, Rabu (10/3/2010), dan berkumpul di halaman gedung DPRD Tuban. Mereka datang untuk menagih janji DPRD Tuban yang dalam aksi sebelumnya berjanji akan mempertamukan petani dengan pihak PT SG, Perhutani selaku pemilik lahan dan intansi terkait yang membidangi soal perizinan. Tapi, saat warga datang, para anggota DPRD tak ada di kantor, termasuk ketua DPRD Tuban Kristiawan.
Lantaran kecewa wakilnya tak ada di kantor dewan, ratusan warga itu langsung marah-marah di halaman kantor dewan. Para petani itu melempari gedung dewan dengan jerami sebagai simbol kekecawaan. "DPRD Tuban pembohong," teriak pengunjuk rasa.
Entah jengkel berkali-kali demo tak pernah ditanggapi atau ada sebab lain, warga berlari berhamburan ke jalan raya. Tanpa mempedulikan kendaraan mereka langsung memblokade perempatan yang berada di sebelah utara gedung DPRD Tuban.
Akibatnya, jalur pantura yang menghubungkan Tuban–Semarang tersebut macet total. Bahkan, sebuah truk pengangkut semen milik PT Varia Usaha (anak perusahaan PT SG) sempat menjadi korban emosi warga. Truk itu dihentikan paksa dan sempat dilempari batu oleh warga.
Aksi brutal itu akhirnya berhasil dihentikan oleh ratusan polisi yang sudah bersiaga sejak awal aksi. Tak berhenti di sana, ratusan warga berjalan kaki menyusuri kawasan kota menuju kantor Bupati Tuban. "Kita ingin bertemu dengan bupati," tegas Kuncoko, koordinator aksi.
Sesampai di depan kantor bupati, warga terus berorasi menentang rencana perluasan tambang semen tersebut. Hingga akhirnya, perwakilan warga ditemui Wakil Bupati Tuban Lilik Suharjono. Tapi, Lilik hanya bisa berjanji untuk melakukan koordinasi dengan Perhutani, PT SG dan pemkab.
"Izin amdal belum kita keluarkan. Saat ini masih dalam proses," kata Lilik menjawab pertanyaan soal izin perluasan itu.
Seperti diketahui, beberapa kali warga menolak perluasan tambang di Kecamatan Meraurak. Warga menilai perluasan itu akan merusak lingkungan sekitar. Mereka juga mengecam para pakar yang berada di belakang PT SG ikut merusak alam.
(Hariyanto Kurniawan)