21 Warga Blitar Terjangkit Kaki Gajah

Solichan Arif, Jurnalis
Senin 05 April 2010 23:01 WIB
Kaki Gajah
Share :

BLITAR - Sedikitnya 21 orang di Kabupaten Blitar dengan 12 di antaranya meninggal dunia terinfeksi filarias atau penyakit kaki gajah. Sedangkan sembilan orang sisanya dipastikan tidak memiliki harapan kesembuhan.  
Mereka mengalami cacat permanen pada organ luarnya. Mulai bagian perut ke bawah, hingga kedua kaki, termasuk alat kelaminya mengalami pembengkakan yang mengakibatkan sulit bergerak.
 
Dari sembilan penderita filarias ini, enam orang di antaranya tercatat sebagai warga Kecamatan Bakung. Kemudian dua orang lainya warga Kecamatan Talun, dan satu warga Kecamatan Udanawu.
 
Arofan (54), salah seorang penderita penyakit yang berasal dari gigitan nyamuk pembawa cacing filaria ini mengaku sudah sepuluh tahun hidup dengan status pengidap kaki gajah. Karena rasa malu yang berlebih, warga Dusun Sukosari, Desa Sukorejo, Kecamatan Udanawu ini memilih mengurung diri daripada harus menjalani perawatan medis.
 
"Pada tahun 2009, saya baru berobat ke rumah sakit Syaiful Anwar Malang. Dan karena tidak cukup biaya, saya kemudian memutuskan pulang ke Blitar," ujarnya kepada, Senin (5/4/2010).
 
Informasi tentang Arofan ditangkap Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar. Selain mengontrol kesehatan, Dinkes juga mengambil sampel darah 50 orang warga di lingkungan Arofan tinggal.
 
Petugas juga mengambil sampel darah Ibrohim (30), satu-satunya keluarga Arofan yang menemaninya hidup sebagai duda tanpa anak. Sebab, penyakit filarias ini bersifat menular. Selain suhu badan tinggi, gejala awal dari seseorang yang tertular filarias adalah terjadinya infeksi di kelenjar lipatan paha menyusul munculnya bintik merah.
 
Menurut keterangan Kepala Seksi Pembrantasan Penyakit Dinkes Kabupaten Blitar Edi Purwoko, hasil uji laboratorium di Surabaya menunjukkan tanda negatif. Selain itu, mikrofilaria yang berada di tubuh Arofan sudah mati.
 
Sejauh ini dipastikan tidak ada warga yang tertular. Namun kendati demikian warga harus tetap waspada terus melakukan kegiatan pembrantasan sarang nyamuk, ujarnya.
 
Kondisi serupa juga dialami delapan orang pasien filarias lainya yang berpotensi menularkan penyakitnya ke orang lain. Perlakuan Dinas Kesehatan melalui masing-masing puskesmas hanya mengobati infeksi luka yang ditimbulkan filarias. Mengenai 12 orang penderita filarias yang meninggal dunia lebih dikarenakan usia mereka yang tua.
 
"Biasanya luka itu muncul dilipatan paha. Dan itu yang diobati. Kita memberikan pelayanan gratis untuk semua pasien," terangnya menambahkan cacat yang ditimbulkan filarias hanya bisa disembuhkan melalui operasi plastis.

(Dadan Muhammad Ramdan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya