MOJOKERTO - Sesosok nenek tua berjalan terseok-seok di halaman belakang Panti Werdha Majapahit, Kabupaten Mojokerto. Kedua tangannya memegang bungkusan dan mendaratkannya ke sebuah lantai di halaman itu juga. Perlahan, bungkusan kecil itu dibuka dengan tangan yang sudah gemetaran.
Bungkusan yang ternyata berisi nasi itu, langsung saja ia tumpahkan ke lantai, yang di sana juga ada nasi yang sama. Kembali dengan perlahan, ia meratakan nasi itu agar mendapatkan terik matahari. Ia keringkan nasi untuk dijadikan aking.
Lama juga jari-jari yang sudah keriput itu meratakan nasi di depannya. Berharap, nasi ini cepat kering. Selesai menjemur, nenek berusia 60 tahun lebih dan bernama Kartini itu lantas mengemasi aking yang sudah kering dan membawanya ke tempat tidur, sebagai harta yang siap diuangkan.
Sekilas, pemandangan ini tampak tak aneh bagi warga biasa. Karena sebagian besar masyarakat di pedesaan memang melakukan aktivitas ini. Dengan alasan sayang, mereka mengeringkan sisa nasi yang tak dimakan untuk dijadikan nasi aking. Tapi bagi para jompo di panti Werdha Majapahit, kegiatan ini memiliki niatan ekonomi.
Yah, selama hidup di panti bersama puluhan jompo lainnya, bisa dibilang jika Kartini tak lagi berpikir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mulai dari sandang, pangan dan papan. Tiga kebutuhan pokok itu telah dipenuhi pihak panti dari topangan anggaran Pemerintah Kabupaten Mojokerto.
Tapi bagaimana jika mereka berkeinginan memenuhi kebutuhan sekunder lainnya, seperti alat-alat pribadi lainnya? Yang dilakukan Kartini adalah salah satu contoh kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan itu. Mereka harus pandai memanfaatkan apa yang ada di sekitar mereka untuk bisa diuangkan. “Jika sudah kering, dijual ke orang luar yang memang menampung nasi aking seperti ini, “ujar Kartini.
Langkah yang dilakukan Kartini ini juga dilakukan para jompo lainnya, terutama mereka yang perempuan. Beberapa dari mereka menyisakan jatah makan yang diterima untuk dikeringkan. Kalau tidak habis, nasi itu tidak dibuang. “Kata orang Jawa, itu pemali. Lebih baik dikeringkan dan bisa dimanfaatkan,” cetus nenek yang ditampung dari rumah sakit jiwa di Surabaya ini.
Tak hanya nasi aking saja yang menjadi sekoci ekonomi bagi para jompo itu. Banyak dari mereka yang berdagang kecil-kecilan antarpara jompo. Tentunya, produk yang dijual dengan harga yang rendah. Maklum, mereka tak banyak memiliki simpanan uang karena rata-rata dari mereka tak memiliki sanak saudara.”Penghasilan lain, dari para dermawan. Biasanya diberikan saat menjelang Lebaran,” terang Kepala Panti Werdha Majapahit, Sugiono.
Dia sendiri tak menyoal apa yang dilakukan para jompo itu. Sejauh itu bukan merupakan tindakan kriminal dan melanggar hukum. Bahkan kata dia, ada salah satu penghuni panti yang bersedia menjadi buruh cuci pakaian.”Biasanya mencuci pakaian tetangga di sekitar panti,” tukasnya.
Tak jarang, tambah Sugiono, para jompo itu juga melakukan jual beli makanan. Baik antarpenghuni panti maupun pihak luar. Salah satunya adalah makanan yang diberikan pihak lain. Contohnya mie instan. Kebanyakan dari mereka akan menjual ke luar jika mendapatkan bantuan dari luar.
”Tak masalah, itu hak mereka karena itu sudah kami berikan,” tandasnya.
(Fitra Iskandar)