Hari Buku Sedunia, 'Apa Ini Mas?'

Nanang Fahrudin, Jurnalis
Sabtu 24 April 2010 06:03 WIB
Komunitas Pecinta Buku Bagikan Poseter (Nanang)
Share :

BOJONEGORO – Gaung perayaan Hari Buku se-dunia tanggal 23 April tak sesemarak perayaan hari besar lainnya.

Tapi, dari sedikit pihak yang merayakan itu, Sindikat Baca sebuah komunitas pecinta buku di Kabupaten Bojonegoro mencoba bergerak. Mereka membagi-bagikan poster dan stiker berisi ajakan membaca.

Jalan bercabang empat tak jauh dari gapura piala Adipura, beberapa anak muda dari Sindikat Baca selalu melihat nyala lampu lalu lintas. Saat lampu menyala merah, sekitar lima orang langsung bergerak membagikan poster dan stiker kepada pengguna jalan. “Selamat Hari Buku Sedunia,”  kata Tamam, salah satu dari mereka.

Poster tersebut, berisi ajakan membaca perkembangan dunia melalui membaca buku. Karena, membaca seperti langkah pertama untuk mendapatkan pengetahuan tentang segala hal. Tak samapai satu jam, ratusan poster itu berpindah tangan kepada masyarakat yang melintas di jalan tersebut.

“Apa ini mas?,” tanya pengguna jalan. “Hari Buku Sedunia,” jawabnya yang ternyata banyak masyarakat tak mengetahui ada Hari Buku Sedunia.

Dalam perayaan yang sangat sederhana, awalnya juga hendak membagikan buletin Baca yang sejak awal terbit digratiskan untuk masyarakat umum. Tapi, lantaran ada kendala teknis, maka buletin tersebut tak bisa dibagikan dalam perayaan Hari Buku tersebut.

“Memang ada kendala di luar perkiraan kami. Tapi itu tak mengurangi kemeriahan dalam perayaan hari buku ini,” kata Amin Fauzi, salah satu peserta.

Menurut Anas AG, salah satu pegiat Sindikat Baca, perayaan Hari Buku Sedunia perlu terus disuarakan di tengah masyarakat yang terlanjur menjadikan televisi sebagai pusat pengetahuan.
 
Membaca, bagi banyak kalangan sudah bukan kebutuhan lagi, apalagi bagi anak-anak ABG yang lebih suka cara hidup instan. “Membaca, harus selalu diteriakkan di tengah masyarakat. Dan hari ini (kemarin,red) kami ingin meneriakkan itu kepada masyarakat,” katanya.

Sindikat Baca sendiri, lanjut dia, berusaha konsisten untuk terus berteriak, agar membaca menjadi sebuah kebutuhan dari masyarakat. Dan selain dengan cara memperingati Hari Buku Sedunia, Sindikat Baca juga memiliki beberapa kegiatan yang berhubungan dengan aktivitas membaca, di antaranya menyelenggarakan Arisan Buku. “Kita awali bulan Marer lalu,” katanya.

Arisan buku yang dimaksud tak lain adalah arisan seperti pada umumnya, namun selajutnya uangnya dibelikan buku. Dan buku tersebut kemudian diobrolkan pada pertemuan selanjutnya. Kampanye membaca lewat arisan buku seperti ini memang tergolong baru, apalagi di daerah kecil seperti Bojonegoro.

Meski demikin, ternyata peminatnya lumayan banyak, yakni sekitar 20 orang. “Mereka berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang dari seniman, guru, wartawan, mahasiswa, mantan aktivis mahasiswa, dan sejumlah pihak lainnya. Obrolannya pun santai tapi menyenangkan,” kata Anas.

(Dadan Muhammad Ramdan)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya