JAKARTA - Hingar-bingar musik dangdut hingga gelak tawa kupu-kupu malam seakan tidak ada habisnya mengisi malam Jalan Kramat Tunggak Tugu Utara, Koja, Jakarta Utara. Gerobak penjaja viagra, kondom berbaris menjadi pelengkap salah satu kawasan prostitusi terbesar se-Asia Tenggara itu.
Kenangan 40 tahun silam itu, masih lekat diingatan Staf Kesehatan Panti Rehabilitasi, Dinas Sosial DKI Jakarta, Dayan Suprapto, saat disambangi okezone di rumahnya Jalan Cemara Utara RT 3/1 Cemara Utara, Kramat Jaya (dulu Kramat Tunggak) Jakrta Utara, beberapa waktu lalu.
Nama Kramat Tunggak tidak akan asing di telinga para penikmat wisata seks. Kramat Tunggak mulai populer sejak Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin menetapkannya sebagai sebagai sebagai Lokasi Resosialisasi (Lokres) Pekerja Seks Komersil (PSK) dengan dikeluarkannya SK Gubernur DKI Jakarta No. Ca. 7/1/13/1970.
"Dari lohor (dzuhur) mereka (PSK) menjajakan diri sampai malam. Setiap (rumah) ada barnya dan kasir pembayaran. Germonya kebanyakan orang Jawa," kenang Dayan
Sayang, usia pusat jajanan si hidung belang tak berlangsung lama. Masyarakat mulai merasakan dampak negatif dari keberadaan Lokres yang mempengaruhi kehidupan warga setempat.
Setali tiga uang, hasil penelitian yang dilakukan Dinas Sosial dan Universitas Indonesia pun merekomendasikan kawasan Lokres seluas 11 hektar itu ditutup. Sehingga, Gubernur DKI Jakarta, Soetiyoso menerbitkan SK No. 6485/1998 untuk menutup Lokres Kramat Tunggak pada 1999.
"Sebelumnya dilakukan sosialisasi ditutup selama dua tahun dari 1995. Germo dan WTS didata, mereka diberi tahu bahwa tempat ini akan ditutup. Mereka diberi pilihan untuk dapat memiliki keterampilan tata boga, menjahit atau rias kecantikan," kata Kepala Badan Pengelola Jakarta Islamic Centre (JIC), Effendi Anas kepada okezone di Kantornya Jl. Kramat Jaya, Jakarta Utara.
Paska dibongkarnya Lokers oleh Pemda DKI Jakarta, banyak muncul gagasan yang mengusulkan untuk dibangun sentra kegiatan olahraga, kegiatan sosial, kegiatan perekonomian, dan keagamaan. Dari beberapa usulan itu, Sutiyoso menilai sentra kegiatan keagamaan yang pantas didirikan mengantikan Lokres.
"Di sini direncanakan sebagai center peradaban. Saat ini sudah selesai dibangun masjid, sosial budaya, dan wisma," jelasnya
JIC tak sekedar menjadi pengembangan pengkajian data dan informasi budaya Islam, tetapi kegiatan usaha dan pengembangan bisnis akan dibangun. Kini bangunan megah Masjid Agung Jakarta Islamic Centre di atas tanah seluas 14, 625 M2 merubah citra Kramat tunggak yang dulu menjadi wisata seks di Jakarta Utara.
Selain masjid, dua gedung lainnya menyusul didirikan, yaitu gedung pendidikan dan pelatihan seluas 12,551 M2 dan komplek bisnis yang terdiri dari hotel, convention hall, dan perkantoran menyusul dibangun dengan luas 21, 452 M2 atas biaya Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).
Namun Effendi, enggan memberitahu berapa dana yang dikeluarkan untuk membangun JIC. "Belum bisa dipublikasikan karena masih berjalan," kilahnya.
Namun, jejak Kramat Tunggak tidak benar-benar hilang di kawasan meski telah dibangun JIC. Dari pandangan okezone menjelang malam masih ada penjual viagra dan kondom yang masih mengais rezeki. Bahkan menurut Dayan, pada tengah malam di sepanjang jalan Masjid Agung JIC beberapa PSK masih menjajakan jasanya. Mereka adalah alumni Kramat Tunggak yang tak memiliki pekerjaan lain setelah dibongkarnya Lokres.
Dayan menyesalkan pembongkaran Lokres oleh Pemda Prov DKI Jakarta tanpa memperhatikan kehidupan para PSK yang terlantar.
Mereka hanya dibekali keterampilan tanpa diberikan modal untuk hidup bermasyarakat.
Dampak pembongkaran Lokres, kata Dayan dirasakan juga oleh para pedagang dan para tukang ojek yang dulu mengais rejeki di Kramat Tunggak kini banyak yang menganggur. "Pemerintah tidak memberi solusi (paska pembongkaran) jadi mereka terlantar. Tidak hanya PSK tukang ojek, pedagang terkena imbasnya," tuturnya.
(Hariyanto Kurniawan)