JAKARTA - Konfederasi partai politik dinilai merupakan langkah antisipatif Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) untuk bertahan pada pemilu mendatang, apabila parliamentary threshold (PT) naik menjadii 5 persen.
Apabila sistem konfederasi itu berhasil diterapkan, maka dipastikan kedua parpol itu memiliki kekuatan politik yang besar.
"Usulan konfederasi lebih merupakan political survival PAN dan PKB untuk tetap bertahan," kata pengamat politik Universitas Paramadina Burhanudin Muhtadi di Jakarta, Selasa (20/07/2010).
Burhanudin menilai usulan konfederasi ini lebih terkait dengan hidup matinya masa depan PAN dan PKB pada 2014. Sebab, kedua parpol itu tidak yakin mampu melewati 5 persen.
"Dengan konfederasi, PAN dan PKB bukan hanya lebih aman lewati lubang jarum PT, tapi juga bargaining posisionnya meningkat seiring bergabungnya parpol-parpol kecil ke konfederasi yang mereka usung," tutur Burhanudin.
Diketahui, hanya PAN dan PKB dalam koalisi parpol mitra pemerintah yang menginginkan konfederasi atau penggabungan parpol diterapkan pada Pemilu 2014. Bahkan sempat muncul pernyataan elite parpol anggota koalisi yang menyatakan konfederasi mengganggu sekretariat gabungan (Setgab), wadah komunikasi parpol koalisi.
Diketahui, PAN dan PKB merupakan parpol koalisi yang "pasang badan" dalam mendukung Partai Demokrat dalam kasus Bank Century.
Ditanya apakah usulan konfederasi lantaran PAN dan PKB kecewa dengan Demokrat, Burhanudin tidak melihat ada kaitannya secara langsung. Usulan konfederasi lebih sebagai langkah politik kedua parpol itu dapat bertahan pada Pemilu 2014.
(Lamtiur Kristin Natalia Malau)