JAKARTA - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belum tertarik gerakan politik yang mengarah pada konfederasi atau penggabungan partai politik menghadapi Pemilu 2014.
Wakil Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Ahmad Basarah malah mempertanyakan sikap sejumlah parpol yang mulai sibuk melakukan persiapan untuk kepentingan pemilu.
“Sekarang masih 2010. Empat tahun lagi, tapi kok sudah sibuk dengan penggabungan parpol untuk pemilu. Seharusnya konsentrasi dulu mengatasi persoalan rakyat,” ujar Basarah di Jakarta, Sabtu (24/7/2010) kemarin.
Dia mengatakan, sikap parpol yang mulai melakukan pendekatan kepada partai kecil menunjukkan bahwa mereka mengalami kegelisahan.
Gerakan itu membuktikan bahwa banyak parpol yang tidak percaya diri untuk menda-pat-kan hati rakyat. “Dengan begitu, muncul pertanyaan apakah mereka selama ini bersama rakyat?” katanya.
Anehnya, kata dia, masalah penggabungan parpol hanya ramai di antara anggota koalisi parpol pendukung pemerintah. Bahkan, ada anggota koalisi yang mencurigai gerakan partai lain padahal masih sama-sama dalam barisan pendukung pemerintah.
Basarah menilai fenomena itu menggambarkan adanya pertentangan di antara mereka.Sementara PDIP selaku parpol oposisi tenang-tenang saja. “Ini membuktikan penggabungan parpol yang hanya didasarkan kepentingan, tidak akan berjalan baik.Ibaratnya,seperti air dan minyak,” ungkapnya.
Sementara itu, pengamat politik dari Reform Institute Yudi Latif menilai wacana untuk menaikkan persentase parliamentary threshold (PT) hingga 5 persen pada Pemilu 2014 membuat parpol semakin gamang. Kegamangan itu lantaran parpol tidak mampu memprediksi perolehan suara pada pemilu nanti.
Alhasil, parpol mulai melakukan manuver mendekati parpol lain guna mencari dukungan suara demi nasib mereka pada empat tahun mendatang. “Parpol mengalami ketidakpastian atas masa depannya karena suaranya unpredictable,” katanya .
Secara psikologis, kondisi itu mendorong parpol untuk melakukan upaya untuk mendukung perolehan suara dengan cara menggandeng parpol lain. “Entah itu melalui konfederasi, fusi, atau asimilasi. Namun, itu semua memiliki arti sama, yakni penggabungan parpol,” katanya.
(Dede Suryana)