BLITAR - Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao berkunjung ke Blitar dan Pasuruan, Jawa Timur. Dalam kunjungan itu, Xanana belajar beternak sapi perah di Pasuruan dan menimba ilmu soal pengelolaan air di Bendungan Wlingi, Blitar.
Didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf dan Direktur Utama Perum Jasa Tirta I Jawa Timur Tjuk Waluyo, Xanana berjalan mengitari Bendungan Wlingi Raya yang berlokasi di Desa Jegu, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, Jumat (10/12/2010).
Dengan tatapan takjub, Xanana menyaksikan bagaimana air yang bersumber dari Sungai Brantas terengkuh dalam bangunan berketinggian 167 meter dari permukaan laut tersebut.
Pria bercambang lebat itu juga tampak terpana ketika mendengar penjelasan, jika air yang tertampung dalam tembok beton yang diresmikan mantan Presiden Suharto pada 12 November 1977 itu mampu membawa manfaat yang besar bagi masyarakat luas.
“Di antaranya pengendalian banjir, pengairan atau irigasi, pembangkit tenaga listrik dan obyek wisata,” terang Tjuk Waluyo dalam bahasa Indonesia.
Selanjutnya, pimpinan negara Timor Leste ini lebih banyak menerima penjelasan teknis bagaimana air dalam bendungan ini dikelola dan sejauh mana tanggung jawab pemerintah. Xanana duduk di antara Gus Ipul dan Bupati Blitar Herry Noegroho.
“Untuk perawatan saluran primer dan sekunder menjadi tanggung jawab pemerintah. Sementara saluran primer menjadi kewajiban masyarakat,” lanjut Tjuk. Dengan gaya santai yang khas, Gus Ipul meminta Xanana maju ke depan, mengamati dari dekat peta aliran sungai Brantas dengan sejumlah infrastruktur (bendungan) pengelolanya.
Xanana terlihat kikuk. “Wah kok sudah diminta maju,” selorohnya dengan bahasa Indonesia patah-patah. Semua tamu undangan yang berada di tempat itu pun terpingkal.
Xanana mengakui betapa pentingnya arti air. Tanpa ragu, dia mengungkapkan bagaimana negerinya terperosok sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Bagaimana kemampuan mengelola air belum dimiliki dengan baik.
“Kami panen setahun sekali, dengan air berasal dari hujan,” ujarnya. Keterangan yang disampaikan Xanana sempat berhenti, ketika dia kesulitan memilih kata “termasuk” untuk menandaskan betapa miskinya Timor Leste.
Untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyat Timor Leste, menurut Xanan, harus selalu bergantung pada kebijakan impor. Sebab produksi pangan yang ada, belum mampu memenuhi kebutuhan nasional. “Termasuk rice (beras) pun sampai saat ini kita impor,” terangnya.
(Dian AF)