Wayang Peninggalan Raja Surakarta Hilang

Septyantoro Aji Nugroho, Jurnalis
Kamis 10 Februari 2011 11:58 WIB
Ki Manteb Soedharsono di Museum Radya Pustaka Solo. (Dok: Sun TV)
Share :

SOLO - Koleksi wayang peninggalan Raja Surakarta Pakubuwono (PB) X di Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah, diduga palsu. Wayang asli yang ada di museum diduga banyak yang hilang.

Wayang purwo atau wayang kulit, serta wayang gedhog yang selama ini dipamerkan museum dengan label peninggalan Raja Keraton Surakarta PB X ternyata sebagian besar bukan merupakan wayang buatan keraton.

Hal ini dikatakan dalang terkenal Ki Manteb Soedharsono di Museum Radya Pustaka Solo, belum lama ini. Menurut Ki Manteb, wayang purwo putren yang menggambarkan sosok perempuan yang ada di museum tersebut hanya satu yang asli, sedangkan yang lain merupakan buatan zaman modern.

“Melihat semua ini, saya seperti ditampar dan dilempari kotoran. Saya merasa malu karena saya ikut memperjuangkan wayang kulit Indonesia itu diakui dunia Unesco. Jelas-jelas wayang ini buatan baru dan bukan buatan keraton, secara sekilas juga sudah kelihatan kalau ini baru,” ujar dalang wayang kulit yang sudah berpengalaman puluhan tahun tersebut.

Menurut Ki Manteb, perbedaan yang paling mencolok adalah pada pewarnaan. Wayang asli buatan keraton menggunakan pewarna prada emas yakni lembaran emas tipis yang ditempelkan menggunakan lem khusus sehingga tahan lama dan tidak mengelupas. Sedangkan wayang yang ada saat ini dibuat dengan teknik pewarnaan brom, sehingga warga emas yang dimunculkan mencolok dan mudah mengelupas.

Bahan wayang asli, jelas Ki Manteb, juga menggunakan bahan yang diproses lama hingga 1 tahun. Kulit yang akan digunakan tidak langsung dicetak tetapi harus dibersihkan dari bulunya, kemudian digulung dan diletakkan di atas perapian selama 1 tahun. Sehingga wayang tidak akan melengkung dalam jangka waktu yang sangat lama.

“Kalau wayang-wayang yang dipajang di sini, warnanya sudah mengelupas dan kulitnya juga sudah melengkung. Saya sangat prihatin dengan kondisi ini, apalagi wayang merupakan benda cagar budaya yang harus dilindungi. Kalau sampai hilang atau dipalsukan seperti ini, karena salah semua pihak dan bukan salah dari pihak museum saja,” terangnya.

Selain menduga banyak wayang yang telah diganti, Ki Manteb juga mensinyalir adanya jual beli wayang-wayang kuno peninggalan Keraton Surakarta. Dia mencontohkan saat berkunjung ke Jerman, dia bertemu dengan salah satu kolektor benda kuno Walter Angst. Di tempat Walter, Ki Manteb mengaku menemukan beberapa kotak berisi wayang kuno peninggalan PB X.

“Saat saya tanya dari mana asal wayang-wayang ini, dia bilang dari Solo. Dia memang sering datang ke Solo. Saya hanya menduga memang terjadi jual beli tetapi untuk kejelasannya perlu dicari karena saya bukan penyidik,” ucapnya.

Sementara itu Sekretaris Komite Museum Radya Pustaka Solo, Djaka Darjata, mengatakan kondisi museum wayang tidak berubah sejak dibentuk komite pengelola museum oleh Wali Kota Solo, pada 2008 lalu.

Berdasarkan data inventaris dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) jumlah wayang yang ada di museum tersebut sebanyak 265 buah.

“Tetapi memang dalam inventarisasi itu tidak dijelaskan apakah wayang itu asli atau bukan. Hanya dikatakan jumlahnya saja, tetapi berdasarkan temuan dari budayawan dan seniman menemukan kejanggalan dari wayang koleksi museum itu, kami akan segera melaporkan kepada Wali Kota Solo,” kata Djaka.

Selain itu, pihaknya juga akan segera membentuk tim yang terdiri dari BP3, pakar, kepolisian, budayawan, dan pemerhati wayang untuk melakukan inventarisasi koleksi museum.

(Dian AF)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya