SOLO - Kasus raibnya wayang peninggalan Raja Pakubuwono X di Museum Radya Pustaka, Solo, membuat prihatin para budayawan. Mereka berdemonstrasi dan menemui Ketua Komite Museum Radya Pustaka.
Sebagai bentuk kekecewaan, sejumlah budayawan menggelar demonstrasi di halaman museum sambil membawa wayang tokoh Semar, Jumat (11/2/2011) siang. Para budayawan mengaku miris dengan dugaan pemalsuan dan jual beli benda bersejarah koleksi salah satu museum tertua di Indonesia itu.
Dalam aksi, mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Menjaga Cagar Budaya Dengan Cara-Cara Berbudaya”.
Mereka juga mengadakan aksi teaterikal yang mengisahkan Museum Radya Pustaka yang digunakan untuk menyimpan benda bersejarah termasuk koleksi keraton Solo.
Menurut mereka, museum yang seharusnya menyimpan benda cagar budaya namun saat ini diisi dengan benda dipalsukan.
Menurut mereka, museum saat ini hanya sebagai tempat legitimasi untuk membuat benda yang disimpan menjadi mahal. Benda bersejarah asli yang ada dijual ke luar negeri dengan harga mahal.
Dalam pernyataan sikap, mereka menuntut pihak terkait segera membentuk tim investigasi untuk menyelidiki kebenaran hilangnya koleksi wayang.
Seusai menggelar unjuk rasa, budayawan mendatangi Ketua Komite Radya Pustaka, Sanyata, yang dianggap paling bertanggung jawab atas hilang dan pemalsuan wayang keraton.
Sempat terjadi adu mulut antara budayawan dengan Sanyata. Namun Sanyata mengaku tidak mengetahui pemalsuan wayang atau hilangnya wayang peninggalan Raja Pakubuwono X tersebut.
(Dian AF)